Galeri‎ > ‎

Dokumentasi


Serba-serbi Persiapan Jelang Asesmen Lapangan AIPT

diposting pada tanggal 17 Feb 2019 07.35 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui17 Feb 2019 08.07 ]

IAIN Manado - Menyambut visitasi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado telah mempersiapkan segala sesuatunya. Visitasi tim asesor BAN-PT yang terdiri dari Prof. Dr. Arifuddin Ahmad , M.Ag. (UIN Alauddin Makassar), Dr. Udik Budi Wibowo, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta), Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Dr. Akhmad Rifai, M.Phil. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) diagendakan berlangsung selama 3 hari, 17-19 Februari 2019.

Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si., meminta agar seluruh unit dan segenap unsur sivitas akademika berpartisipasi, mendukung, dan menyukseskan pelaksanaan akreditasi tersebut, sehingga IAIN Manado bisa berhasil mendapatkan nilai maksimal. Untuk itu, beberapa persiapan telah dilakukan mulai merapatkan barisan, perbaikan, dan kelengkapan portofolio hingga sosialisasi pada mahasiswa, staf pendukung, dosen dan pimpinan unit kerja.

Mengikuti arahan Rektor dan harapan publik utamanya para pengguna layanan pendidikan (mahasiswa)  terhadap status akreditasi institusi, Program Pascasarjana sebagai salah satu unit pelaksana pendidikan di IAIN Manado juga ikut serta berpartisipasi, mendukung, dan menyukseskan pelaksanaan akreditasi institusi yang baru pertama kalinya dilaksanakan sejak institusi perguruan tinggi ini berdiri se
cara otonom tahun 1997.

Serba-serbi persiapan jelang pelaksanaan AIPT yang dilakukan oleh Program Pascasarjana tampak dari berbagai kegiatan yang dilakukannya antara lain penataan arsip
data dokumen administrasi umum dan administrasi akademik, penataan ruang administrasi, ruang perpustakaan, ruang kuliah, dan ruang pimpinan.

Hal yang tidak kalah pentingnya dilakukan oleh Program Pascasarjana dalam persiapan menyambut pelaksanaan AIPT ialah penataan stand Program Pascasarjana di ruang utama pelaksanaan kegiatan akreditasi yang berada di gedung perpustakaan IAIN Manado.

Keterbatasan sumber daya yang ada tidak menyurutkan semangat dan antusiasme seluruh jajaran Program Pascasarjana IAIN Manado mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam AIPT. Hal tersebut tampak dari keterlibatan seluruh komponen sumber daya manusia yang dimilikinya mulai dari Direktur, Ketua Program Studi, Kasubag Tata Usaha, hingga staf menyatu padu dalam semangat yang sama dengan prinsip sederhana ‘bekerja bersama itu indah’.

Kebersamaan adalah aspek yang sangat penting dalam organisasi. Kebersamaan (togetherness) mampu mempersatukan, memberikan keamanan, dukungan, dan juga perasaan saling memiliki satu sama lain. Dengan begitu, tidak sulit menjawab pertanyaan ‘If you don't have money, what can you do?’.  (at)

Evaluasi Perkuliahan Semester Genap T.A. 2017-2018 dan Distribusi Mata Kuliah

diposting pada tanggal 29 Des 2018 08.14 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Memasuki awal perkuliahan semester Gasal tahun akademik 2018-2019, pimpinan program pascasarjana bersama para dosen pada pada Kamis (06/09/2018) melaksanakan rapat evaluasi program perkuliahan Semester Genap T.A. 2017-2018. Rapat dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd.

Selain evaluasi program perkuliahan juga dibahas homebase dosen program pascasarjana. kurikulum, dan program akreditasi program studi, serta distribusi mata kuliah berdasarkan jadwal yang disusun oleh masing-masing Ketua Program Studi.

Rapat evaluasi yang melibatkan seluruh dosen program pascasarjana itu dilaksanakan di Aula Program Pascasarjana. 

Bahas Program Kerja Pascasarjana Tahun 2019

diposting pada tanggal 29 Des 2018 07.55 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui29 Des 2018 07.57 ]

IAIN Manado - Pimpinan Program Pascasarja
na Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado pada Senin (10/09/2018) melaksanakan kegiatan Rapat Kerja membahas program kerja Program Pascasarjana tahun 2019. Rapat Kerja dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd. Dikemukan oleh Bolotio bahwa agenda Rapat Kerja ini merupakan kegiatan permulaan untuk membahas program kerja atau kegiatan Program Pascasarjana tahun 2019 yang akan disampaikan pada tingkat rapat kerja (Raker) IAIN Manado.

Dalam rapat pimpinan Program Pascasarjana yang diikuti oleh ketua program studi masing-masing, Dr. Drs. Naskur, M.HI dan Dr. Ardianto, M.dd., serta Kepala Sub Bagian Tata Usaha Program Pascasarjana, Wiradharma Kostradi, S.T, disepakati berapa agenda program kerja yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2019 sesuai dengan pagu alokasi anggaran yang ada untuk Program Pascasarjana tahun 2019.
(at)     

Rakor Kebijakan Penganggaran Program Pascasarjana

diposting pada tanggal 29 Des 2018 06.52 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui29 Des 2018 07.28 ]

IAIN Manado - Wakil Rektor II Bidang Adminitrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Sulaiman Mappiasse, Ph.D pada Senin (22/10/2018) melakukan rapat koordinasi dengan pimpinan Program Pascasarjana IAIN ManadO masing-masiing Direktur Program Pascasarjana. dan para Ketua Program Studi, dan Kasubag TU Program Pascasarjana.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Warek II itu juga turut dihadiri oleh Kepala Biro AUAK, Drs. H. Suleman, M.Pd., Kasubag Perencanaan, Junaidi Lababa, M.Pd., dan Bendahara Penerimaan IAIN Manado, Irfan Djafar, S.Kom. 

Dalam rapat yang berlangsung di ruang Ketua Program Studi Program Pascasarjana itu dibahas berbagai permasalahan terkait kebijakan penganggaran pada Program Pascasarjana. Warek II, Sulaiman Mappiasse, Ph.D mengungkapkan bahwa perlu dilakukan evaluasi mendasar tentang dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Program Pascasarjana yang dalam hal ini hanya berasal dari satu sumber yaitu Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) mahasiswa. Dan, ini pun menurut Mappiasse belum mencapai target. Karena itu, menurutnya perlu diambil langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Menanggapi evaluasi pencapaian penerimaan SPP itu, Ditektur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd mengakui bahwa memang masih banyak
mahasiswa yang belum membayar SPP. Keadaan ini khususnya bagi mahasiswa angkatan 2017-2018, 2016-2017, dan 2015-2016. Sedangkan, khusus untuk mahasiswa baru angkatan 2018-2019 tidak ada masalah karena proses penerbitan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) harus dibuktikan dengan bukti lunas biaya SPP, biaya Registrasi, biaya Perpustakaan, dan biaya matrikulasi.

Berdasarkan data Sub Bagian TU Program Pascasarjana kebanyakan mahasiswa yang belum membayar kewajibannya itu adalah mahasiswa angkatan lama. Secara berkala juga telah disampaikan kepada mahasiswa melalui surat edaran. Bahkan, telah disampaikan surat kepada mahasiswa yang disertai dengan informasi mengenai konsekuensi keterlambatan atau tidak dilakukannya pembayaran SPP sesuai waktu yang telah ditentukan.

Untuk mencapai target yang diharapkan disepakati agar dilakukan penagihan dan tidak dibuka ruang untuk menunda pembayaran SPP dengan ketentuan bahwa mahasiswa yang belum membayar SPP tidak berhak mendapat pelayanan akademik pada Program Pascasarjana.

Menurut Warek II, ke depan hal yang perlu dilakukan untuk mencapai target PNBP Program Pascasarjana yang bersumber dari SPP mahasiswa ialah integrasi pembayaran SPP dan biaya lainnya dengan sistem yang diberlakukan di tingkat mahasiswa S1. (at)    

Laksanakan Sosialisasi di Bolmut dan Kota Kotamobagu

diposting pada tanggal 28 Des 2018 09.37 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado untuk
pengembangan perannya dalam pengelolaan pendidikan jenjang magister (S2) terus melakukan perluasan sosialisasi ke masyarakat. Kali ini pengelola Program Pascasarjana IAIN Manado lakukan kunjungan ke Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kota Kotamobagu dalam rangka sosialisasi di hadapan guru dan pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kantor Kementerian Agama Kota Kotamobagu.


Sosialisasi di Bolaang Mongondow Utara
Kegiatan sosialisasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara pada Selasa (17/04/2018) yang dipusatkan pada guru dan pegawai di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara itu dilaksanakan di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dalam kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bolaang Mongondow Utara beserta jajaran pejabat eselon IV. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Hi. Sulaiman Amba, S.Ag., dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan bahwa guru dan pegawai Kemenag di Bolaang Mongondow Utara sangat membutuhkan sosialisasi program magister. "Mereka para guru dan pegawai sangat antusias melanjutkan pendidikan", ungkap Amba. Namun, diakui pula bahwa salah satu kendala yang ada adalah jarak antara Manado dan Bolmut. "Ini yang selalu menjadi permasalahan guru dan pegawai, sementara mereka dituntut untuk tetap menjalankan tugas mereka sebagai guru dan pegawai sesuai regulasi yang ada", lanjut Amba.

Tim Pascasarjana yang ikut serta dalam kegiatan sosialisasi di Bolmut yakni Dr. Drs. Naskur, M.HI. (Ketua Prodi Hukum Keluarga/Plt. Ketua Prodi Ekonomi Syariah), Dr. Ardianto, M.Pd. (Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam/Plt. Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam), Dr. Arhanuddin, M.Pd.I (Ketua Tim Sosialisasi Penerimaan Maba Tahun Akademik 2018-2019), dan Dr. Adri Lundeto, M.Pd.I (Perwakilan Dosen Program Pascasarjana). Tim berada di Bomut selama 2 hari, hari pertama adalah kunjungan ke beberapa madrasah dan pondok pesantren di Bintauna dan Boroko dan hari kedua kegiatan sosialisasi yang dipusatkan di Kantor Kemenag Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Sosialisasi di Kota Kotamobagu
Sementara itu, usai kegiatan sosialisasi di Bolaang Mongondow Utara,  pada Kamis (19/04/2018) pengelola Program Pascasarjana melanjutkan agenda sosialisasi di Kota Kotamobagu. Kegiatan sosialisasi ini langsung dilakukan oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd yang turut serta didampingi oleh Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam/Plt. Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Dr. Ardianto, M.Pd. Selain itu, juga ikut serta Ketua Tim Sosialisasi, Dr. Arhanuddin, M.Pd.I.

Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan kepada guru dan pegawai di lingkungan Kementerian
Agama Kota Kotamobagu ini dilaksanakan di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kotamobagu. Hadir dalam kegiatan ini ialah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kotamobagu, Hi. Saiful Bongso, M.Pd.I. Dalam sambutannya, Saiful Bongso mendukung sepenuhnya guru-guru dan pegawai yang akan melanjutkan studi. Ia juga menjanjikan akan memberikan kemudahan dalam urusan administratif berupa izin atasan dan akan memfasilitasi pengurusan izin belajar.

Mengawali materi sosialisasi, Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, memaparkan visi, misi, dan tujuan Program Pascasarjana IAIN Manado termasuk visi, misi, dan tujuan empat Program Studi yang ada di Program Pascasarjana. Ia juga memaparkan capaian-capaian Program Pascasarjana saat ini dan program-program yang akan dilaksanakan ke depan. Sementara itu, Dr. Ardianto, M.Pd. dan Dr. Arhanuddin, M.Pd.I memaparkan  program penerimaan mahasiswa baru Program Pascasarjana IAIN Manado tahun akademik 2018-2019.

Di akhir kegiatan sosialisasi, peserta sosialisasi yang berasal dari guru madrasah, pengawas, dan pegawai itu diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Para peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang paling umum ialah masalah sistem perkuliahan dan status akreditasi program studi yang ada.  (at) 

Sosialisasi di Hadapan Pegawai Pemkot Manado

diposting pada tanggal 28 Des 2018 08.06 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui28 Des 2018 09.39 ]

IAIN Manado - Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Manado pada Senin (14/05
/2018) laksanakan sosialiasi program studi di hadapan pegawai khususnya pegawai muslim di lingkungan pemerintah kota Manado. Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di Aula Kantor Walikota Manado turut dihadiri oleh Drs. Heri Saptono (Staf Ahli Walikota Manado Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan) mewakili Walikota Manado.

Dalam sambutannya, Saptono mengungkapkan bahwa sosialisasi yang dilaksanakan oleh Program Pascasarjana IAIN Manado ini sangat penting. IAIN Manado sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Kota Manado tentu mempunyai peran strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat di Kota Manado.  Ia menungkapkan bahwa salah satu program unggulan Pemerintah Kota Manado ialah Manado Cerdas. Untuk mendukung program Manado Cerdas ini ialah salah satunya diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pegawai di lingkungan pemerintah Kota Manado. Ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan yang baik salah satunya dapat dilakukan bila kualitas aparatur juga berkualitas. Kualitas aparatur itu antara lain dapat ditingkatkan melalui prgoram studi lanjut.

Ikut serta dalam sosialisasi ini ialah Dr. Ardianto, M.Pd., Ketua Program Studi S2 Pendidikan
Agama Islam, Dr. Arhanuddin, M.Pd.I (Ketua Panitia Sosialisasi dan Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018-2019,  dan Dr. Musdalifah Dachrud, M.Si., perwakilan dosen Program Pascasarjana IAIN Manado.

Dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti oleh puluhan pegawai dari sejumlah SKPD ini selain diinformasikan tentang program penerimaan mahasiswa baru, juga dijelaskan visi, misi, dan tujuan Program Pascasarjana IAIN Manado termasuk visi, misi, dan tujuan empat Program Studi yang ada di Program Pascasarjana. Tujuannya ialah agar masyarakat khususnya stakeholders  mengetahui dan memahami profil Program Pascasarjana IAIN Manado berikut program studi yang dimilikinya.

Kegiatan sosialisasi ini juga disambut positif oleh para pegawai dan secara aktif mengajukan pertanyaan untuk pendalaman informasi tentang Program Pascasarjana IAIN Manado mulai dari paket biaya pendidikannya, mekanisme perkuliahan, fasilitas perkuliahan yang disediakan, dan program-program akademik yang dilaksanakan selama perkuliahan. (at) 

Prof. Azyumardi: Sulawesi Bagian Tak Terpisahkan dari Islamisasi di Nusantara

diposting pada tanggal 28 Des 2018 06.55 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui28 Des 2018 07.09 ]

IAIN Manado - Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Institut Aga
ma Islam Negeri (IAIN) Manado bekerja sama dengan Program Pascasarjana sukses selenggarakan Seminar Nasional bertajuk "Sejarah Islam Sulawesi dalam Bingkai Islam Indonesia dan Global" pada Senin (24/12/2018). Narasumber yang dihadirkan dalam seminar nasional yang bertempat di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado itu ialah pakar sejarah Islam dan cendekiawan muslim Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE.

Seminar Nasional yang diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa Program Sarjana dan Program Pascasarjana itu dibuka secara resmi oleh Dekan FUAD IAIN Manado, Dr. Salma, M.HI. Dalam sambutannya, Salma menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE., yang berkenan hadir memenuhi undangan panitia pelaksana. Ia juga berharap agar kegiatan seminar dengan narasumber dengan reputasi kepakaran yang tidak saja dikenal di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat regional dan internasional ini diikuti secara aktif oleh peserta.

Hal yang sama juga diungkap oleh Ketua Panitia Pelaksana, Delmus Puneri Salim, M.A., M.Res.,
Ph.D. Dalam laporannya, Salim menjelaskan latar belakang pemilihan narasumber Seminar Nasional sekelas Prof. Azyumardi. "Beliau adalah tokoh intelektual muslim yang concern pada kajian history of Islam, karena itu FUAD yang salah satu program studinya ialah Sejarah Peradaban Islam sangat penting memperoleh wawasan sejarah Islam khususnya sejarah Islam Sulawesi dalam konteks Islam Indonesia dan global", ungkap Salim. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Prof. Azyumardi yang reputasi keilmuannya sangat tinggi itu diharapkan dapat memberi penguatan akreditasi program studi khususnya  Program Studi Sejarah Peradaban Islam dan program studi yang ada di Program Pascasarjana.

Di awal pemaparan materinya, Prof. Azyumardi yang merupakan penerima gelar kehormatan "Commander of the Order of the British Empire" (CBE) dari Ratu Inggris Elizabeth II itu mengungkapkan bahwa saat ini kian  banyak  kalangan  yang  berusaha  memahami  Islam  di  Asia  Tenggara
atau sering disebut sebagai 'Islam Indonesia'. Alasan Islam Indonesia dipilih karena dalam  pengejawantahan  kehidupan sosial budaya tradisi Islam Indonesia  memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. "Kaum Muslimin Indonesia memang memiliki sistem dan tradisi sosial budaya yang khas dan distingtif jika dibandingkan dengan umat Islam di tempat-tempat lain. Karena itulah Islam Indonesia memiliki wilayah budaya Islamnya sendiri dari delapan Islamic cultural spheres yang saya teorikan", lanjutnya.

Menurutnya, Islam Asia Tenggara mengacu pada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim  (nusantara)  yang  mencakup  tidak  hanya  kawasan  yang  sekarang  menjadi negara  Indonesia, tetapi juga  wilayah Muslim Malaysia, Thailand  Selatan  (Patani), Singapura,  Filipina  Selatan  (Moro),  d
an  juga  Champa  (Kampuchea).  Islam  Asia Tenggara (Southeast Asian Islam) sering digunakan secara bergantian dengan 'Islam Melayu-Indonesia' (Malay-Indonesian Islam). Peradaban  Islam Asia Tenggara pada saat yang sama menampilkan ciri-ciri dan karakter yang distingtif dan khas yang berbeda dengan peradaban Islam di wilayah-wilayah lainnya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengemukakan bahwa memahami Islam Indonesia dan Islam Asia Tenggara sangat penting dalam memahami Islam dan Muslim secara komprehensif. Menurutnya, kedudukan kawasan ini yang secara geografis terletak pada 'pinggiran' (perifer) dunia Muslim, yang melahirkan anggapan bahwa Islam Indonesia dianggap bukan “Islam yang sebenarnya”, bukan Islam sejati, bukan puritan dan murni adalah persepsi yang keliru, dan persepsi ini telah dikoreksi belakangan ini.  

Bahwa ada pengaruh budaya lokal dalam tradisi Islam di Nusantara dan karenanya menjadi pembeda dengan tradisi Islam di Timur Tengah adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, akan tetapi untuk menyebut tradisi Islam di Nusantara tidak mempunyai kaitan Islam di Timur Tengah jelas merupakan kekeliruan amat fatal. Begitu juga dengan anggapan hubungan Islam di Nusantara dengan Timur Tengah lebih bersifat politis ketimbang keagamaan. Islam di Nusantara telah berhubungan dengan Islam global dan jaringan 'ulama' sejak abad ke-16 terutama dengan Mekah dan Madinah, dan pada abad ke-20 dengan Kairo dan di negara lainnya.

Prof. Azyumardi menyebut bahwa abad ke-17 dan ke-18 merupakan salah satu masa yang paling penting dalam sejarah sosial intelektual kaum
muslim.  Sumber dinamika Islam dalam abad ke-17 dan ke-18 adalah jaringan ulama, yang terutama terpusat di Mekah dan Madinah. Melalui jaringan ulama inilah banyak gagasan pembaharuan Islam ditransmisikan dari pusat- pusat jaringan ke berbagai bagian dunia muslim. Memahami proses-proses transmisi gagasan pembaharuan itu menjadi semakin  penting dalam hubungannya dengan perjalanan Islam di Nusantara.

Setidaknya sejak abad ke-17 hubungan di antara kedua wilayah Muslim ini umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan, meski juga terdapat hubungan politik antara beberapa kerajaan Islam Nusantara dengan dinasti Utsmani. Hubungan antara kaum Muslimin di kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. Para pendatang Muslim dari Arab, Persia, dan anak Benua India yang mendatangi kepulauan Nusantara tidak hanya  berdagang, tetapi dalam batas tertentu juga menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Jaringan ulama (Ulama Networks) yang berpusat di Mekah dan Madinah memperoleh momentum penting dan semakin maju sesungguhnya sudah mulai sejak abad ke-15. Pada periode inilah banyak penuntut ilmu yang terdiri dari ulama penting yang datang dari berbagai penjuru dunia muslim (beberapa dari mereka tinggal di Tanah Suci). Jaringan yang saling timbal-balik diciptakan melalui relasi guru-murid, guru-guru, murid-murid, isnad dalam pengetahuan agama, dan silsilah tarekat.

Namun, inti dari jaringan ulama yang terpusat di Mekah dan Madinah sejak abad ke-17. Ini mendorong munculnya komunitas yang oleh sumber-sumber Arab disebut Ashhab Al-Jawiyyinn di Haramayn. Murid-murid Jawi di Haramayn merupakan inti utama tradisi intelektual dan keilmuan Islam di antara kaum Muslimin Melayu Indonesia. Setelah menuntut ilmu di Timur Tengah, khususnya di Mekah dan Madinah, sebagian mereka kembali ke Nusantara. Di sinilah mereka menjadi transmitter utama tradisi intelektual-keagamaan dalam tradisi Islam dari pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah ke Nusantara.

Terkait dengan sejarah Islam di Sulawesi, Prof. Azyumardi menyebut bahwa Sulawesi adalah bagian tak terpisahkan dari proses islamisasi di Nusantara. Ada tiga Datuk (Ri Tiro, Ri Bandang, Patimang) yang melakukan perjalanan ke Lombok dan Sulawesi Selatan; dan Dato Karoma ke Palu (Sulawesi Tengah). Mereka ini memainkan peran penting dalam islamisasi di Sulawesi. Karya-karya yang ditulis di Aceh dan tempat lain dari abad ke-16 dan seterusnya dapat ditemukan di Buton dan Sulu. Karena itu, ada kemungkinan bahwa Sulawesi Utara juga merupakan bagian dari perjalanan Islam di daerah tersebut.

Di akhir materinya, Prof. Azyumardi mengemukakan bahwa warisan terbaik dari jaringan ulama (Ulama Networks) ialah tradisi Islam wasatiyyah, Islam moderat dan akomodatif. Studi global tentang Islam harus mencakup Islam Asia Tenggara dan hal ini dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang Islam dan Dunia Muslim. (at)

Menag, Resmikan Empat Gedung dan Berikan "Pencerahan Akademik"

diposting pada tanggal 26 Des 2018 22.13 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui28 Des 2018 00.07 ]

IAIN Manado - Pada Jumat  (21/12/2018) Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin berkunjung ke
IAIN Manado dalam rangka peresmian 4 (empat) gedung yang telah selesai dibangun di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado,yakni gedung perpustakaan, gedung kuliah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), gedung kuliah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dan gedung pendidikan IAIN Manado. Keempat gedung tersebut dibangun tahun 2015 dan 2017 yang dibiayai pemerintah melalui Surat Berharga Syariah Negara ( SBSN).

Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran Menteri Agama dan rombongan  di IAIN Manado. Gonibala yang merupakan rektor pertama IAIN Manado juga melaporkan kepada Menteri Agama tentang perkembangan IAIN Manado saat ini pasca alih status dari sekolah tinggi menjadi institut. Perkembangan-perkembangan yang dilaporkan mencakup kuantitas dan kualitas mahasiswa, dosen, dan pegawai; perkembangan jumlah program studi dan status akreditasinya; peningkatan jumlah sarana dan prasarana IAIN Manado; kerja sama kelembagaan yang telah dilakukan oleh IAIN Manado dengan berbagai lembaga perguruan tinggi dalam dan luar negeri, dan peningkatan kapasitas DIPA IAIN Manado dari tahun ke tahun. Selain itu, ia juga menyampaikan beberapa aganda pembagunan infrastruktur fisik dan nonfisik IAIN Manado ke depan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan pendidikan yang bermutu sesuai standar pengelolaan pendidikan tinggi.

Kegiatan peresmian yang dipusatkan di pelataran depan gedung perpustakaan IAIN Manado itu juga ikut dihadiri oleh jajaran pejabat eselon I dan II antara lain, rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Dr. Jeane Tulung, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara, Dr. Abdul Rasyid, M.Ag., Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Propinsi Sulawesi Utara, dan kepala Biro AUAK IAIN Manado, Drs. Suleman, M.Pd.

Dalam sambutannya, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengingatkan bahwa gedung-gedung yang telah dibangun dan akan diresmikan penggunaannya ini agar dimanfaatkan sebaiknya-baiknya oleh seluruh civitas akademik IAIN Manado. "Gedung-gedung yang ada ini agar diberikan 'ruh', diberikan 'nyawa' pada bangunan itu karena itu benda mati. Jadi, nilai kemanfaatan gedung-gedung baru itu sangat tergantung pada bagaimana kita memberikan 'ruh', 'nyawa' sehingga bangunan-bangunan itu hidup dengan berbagai macam aktivitas dan program yang dilakukan. Dengan begitu gedung-gedung yang ada itu betul-betul mengembangkan kemaslahatan bagi sebanyak mungkin kalangan, masyarakat", ujar Saifuddin.

PTKI Emban Tugas Pendidikan Moderasi Beragama
Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin, dalam sambutannya juga menyampaikan harapannya terhadap peran perguruan tinggi keagamaan Islam.
Dikemukakan bahwa dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia ada dua lembaga pendidikan, yaitu pondok pesantren dan madrasah. Jika pondok pesantren dan madrasah itu adalah pendidikan dasar dan menengah, maka diperlukan perguruan tinggi (pendidikan tinggi) dan itu adalah perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKIN) yakni STAIN, IAIN, dan UIN. Perguruan tinggi keagamaan Islam ini merupakan terminal akhir pendidikan keagamaan Islam. Perguruan tinggi Islam ini memiliki kompetensi tertinggi yang paling memiliki otoritas dalam menjelaskan cara beragama, cara ber-Islam untuk menjelaskan apa esensi dan substansi ajaran Islam itu. Menurut Saifuddin, civitas akademik perguruan tinggi keagamaan Islam ini yang paling otoritatif dari sisi keilmuan. Oleh karenanya, ia berharap bahwa seluruh civitas akademik (STAIN, IAIN, dan UIN) dapat hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menebarkan, untuk mencerahkan wawasan pengetahuan sekaligus bentuk-bentuk pengamalan agama. "Hal inilah yang menjadi dasar Kementerian Agama mengusung slogan "Moderasi Beragama", jadi bukan moderasi agama karena agama pada dasarnya adalah moderat sebagai lawan kata ekstrim. Ekstrim itu berlebihan, sedangkan moderat dalam konteks Islam adalah wasathiah", ungkap Saifuddin.

Mengapa moderasi beragama karena menurut Menag RI itu, meskipun agama itu sendiri pastilah moderat, namun cara memahami agama dapat berimplikasi pada cara mengamalkan ajaran-ajaran agama yang boleh jadi terjerembab, terjerumus, terporosot pada ekstrimitas. Dijelaskannya bahwa fakta menunjukkan ada pemahaman dan perilaku pengamalan yang berlebih-lebihan. Dalam memahami teks agama, ada dua kutub ekstrim. Pertama, kelompok yang sangat berlebih-lebihan bertumpu pada teks itu sendiri sehingga tidak mau melihat konteks. Jadi, pemahaman banyak bertumpu pada teks dan tidak melihat konteks, tidak melihat asbabun nuzul-nya. Kelompok ini terlalu mendewakan teks. Dan, kedua, kelompok yang terlalu mendewakan akal pikiran. Jadi, kalau kelompok pertama terlalu konservatif, sedangkan kelompok kedua terlalu liberal. Bahkan, cara pemahaman kelompok ekstrim yang kedua ini terlalu bebas, tanpa batas, dan terkesan tercerabut dari teks itu sendiri dalam memahami ajaran agama. Itulah sebabnya diperlukan moderasi beragama untuk mengajak dua kutub ekstrim itu untuk kembali ke tengah, untuk menjadi moderat. Karena dua pendekatan ini sama-sama diperlukan dan bukan untuk saling dibenturkan. Keduanya adalah sama-sama merupakan khasanah pemikiran Islam dalam tradisi keilmuan Islam. Jadi, tidaklah tepat untuk saling dibenturkan satu sama lain, bukan untuk saling menyalahkan satu dengan yang lain. Dua-duanya diperlukan untuk saling disinergikan dalam rangka memperoleh pemahaman yang terbaik dalam menerjemahkan atau menafsirkan teks agama.

Menag RI juga berpesan kepada seluruh civitas akademik, dosen dan mahasiswa, yang memiliki kompetensi di bidang keagamaan ini, memiliki tanggung jawab dan peran strategis untuk mencerahkan umat, dan bukan untuk menjadi bagian yang turut membenturkan satu dengan yang lain. "Jelaskan dengan baik kepada umat, kepada masyarakat, mengapa perbedaan itu ada. Kita tidak dalam posisi untuk menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain", tegasnya.

Apa yang Dapat Direfleksikan?
Dalam sambutan Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin, pada acara peresmian gedung baru di IAIN Manado yang lebih layak disebut "pencerahan
akademik" itu, setidaknya dua poin penting yang patut menjadi perhatian seluruh civitas akademik IAIN Manado. Pertama, PTKIN merupakan terminal terakhir dari sistem pendidikan Islam Indonesia yang secara keilmuan memiliki otoritas tinggi dalam pemahaman dan pengamalan keislaman. Karena itu, seluruh civitas akadamik kampus memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengamalkan sekaligus memberikan pemahaman Islam yang mencerahkan bagi masyarakat, bukan memperkeruhnya.

Kedua, bangunan-bangunan di kampus merupakan benda mati yang kemegahannya tidak berarti jika tanpa "ruh" di dalamnya. Tugas seluruh civitas kampus untuk memberikan "ruh" bangunan megah itu dengan memanfaatkannya sebagai sarana untuk beragam aktivitas yang dapat menunjang pengembangan kualitas intelektual dan pemahaman keislaman bagi seluruh civitas akademik agar memiliki maslahat yang sebesar-besarnya bagi umat, bagi masyarakat.

Dari dua poin di atas tampak bahwa tanggung jawab yang melekat pada IAIN Manado sebagai bagian dari PTKIN di Indonesia ternyata tidak ringan. Untuk mengemban amanat itu, sudah barang tentu harus direspon dengan penguatan progam peningkatan kualitas pemahaman keislaman dan intelektual civitas akademik. IAIN Manado dengan beragam aktivitas yang dilakukannya harus dapat mendukung terciptanya civitas akademik yang benar-benar memiliki otoritas pemahaman keislaman yang siap mencerahkan masyarakat. Berbagai kebijakan program kampus ke depan juga harus sudah diorientasikan pada penguatan aktivitas yang bisa menjadi "ruh" dalam menunjang peningkatan kualitas intelektual-akademik. ###

(Laporan: A. Tola & Rusdianto}

Rektor Buka Kuliah Tamu Program Pascasarjana

diposting pada tanggal 23 Des 2018 05.56 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui23 Des 2018 06.00 ]

IAIN Manado - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si., membuka kuliah tamu Program Pascasarjana IAIN Manado pada Kamis (20/12/2018). Dalam sambutan pembukaan, Gonibala yang kembali maju menjadi calon rektor IAIN Manado untuk periode 2019-2023 itu memuji berbagai terobosan yang dilakukan oleh Program Pascasarjana termasuk pelaksanaan kuliah tamu dengan menghadirkan pakar dalam berbagai bidang. "Kuliah tamu dengan menghadirkan narasumber yang pakar dalam bidangnya penting dilakukan untuk memperoleh pendalaman ilmu dan wawasan pengetahuan mutakhir bagi mahasiswa maupun dosen", ujar Gonibala.

Menyoroti tema kuliah tamu yaitu "Paradigma Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan dan Sosio-Humaniora: Perspektif Transdisipliner",  Gonibala menjelaskan bahwa tema yang diangkat tersebut relevan dengan visi IAIN Manado di mana salah satu pusat keunggulan yang dicita-citakan ialah pengembangan pendidikan berwawasan multikultural-transdisipliner. "Untuk mencapai idealisme ini diperlukan wawasan metodologi penelitian dalam perspektif transdisipliner", lanjut Gonibala.

Kuliah tamu yang dimoderatori oleh Dr. Musdalifah, Dachrud, S.Psi., M.Si., Psi., ini dibawakan oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Prof Suwardi yang telah menulis sejumlah buku ini mengungkapkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan kompleksitas permasalahan yang ada telah mendorong lahirnya paradigma penelitian transdisipliner termasuk dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif. Transdisipliner (dan interdisipliner) merupakan orientasi epistemologi postpositivistik yang berciri subjektif ekstrinsik.
 
Dalam konteks metodologi penelitian, hal mendasar yang perlu dieksplanasi menurut Prof. Sumardi adalah posisi ontologis, epistemologi, dan aksiologi masalah penelitian. Ia membedakan antara fakta penelitian dan data penelitian. Fakta penelitian merupakan fenomena, gambaran realitas, dan fakta objektif-imajinatif, sedangkan data penelitian merupakan fakta yang terseleksi atau fakta yang relevan.

Kuliah tamu yang dilak
sanakan di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado ini diiku
ti ratusan mahasiswa yang tediri dari mahasiswa program pascasarjana dan program sarjana IAIN Manado. Selain itu, juga hadir beberapa dosen. Bahkan, di antara peserta juga hadir budayawan dan sastrawan Sulawesi Utara, Reiner Emyot Ointoe yang adalah mantan dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado; Haz Algebra, penyair, aktivis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Dialog Peradaban L’Nous (Philosophy, Art & Science) dan Komunitas Bibir Pena; kalangan pemuda pegiat literasi Sulawesi Utara, serta guru-guru yang tergabung dalam Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Sulawesi Utara.

Kuliah tamu yang ikut didukung oleh Forum Mahasiswa Pascasarjana IAIN Manado dan HISKI Sulawesi Utara itu berlangsung dinamis dan interaktif serta diikuti dengan aktif dan antusias oleh para peserta sehingga kuliah tamu berlangsung hingga melebihi waktu yang diagendakan.

Di akhir sesi kuliah tamu juga diserahkan piagam penghargaan kepada narasumber, moderator, dan perwakilan peserta. Piagam penghargaan diberikan oleh Program Pascasarjana sebagai wujud apresiasi dan ucapan terima kasih atas partisipasi dan kehadiran narasumber, moderator, dan para peserta mengikuti kuliah tamu. Penyerahan piagam penghargaan dilakukan oleh ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam mewakili Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado. (at)

Formapas Kolaborasi Laksanakan Bedah Buku dan Diskusi

diposting pada tanggal 20 Nov 2018 17.59 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Manado pada Rabu (17/10/2018) melaksanakan kegiatan bedah buku dan diskusi. Buku yang dibedah dan diskusikan adalah buku karya Yuval Noah Harari berjudul "21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21". Tampil sebagai narasumber adalah Dr. Arhanuddin, M.Pd.I, dosen Program Pascasarjana IAIN Manado dan Haz Algebra, penyair, aktivis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Dialog Peradaban L’Nous (Philosophy, Art & Science) dan Komunitas Bibir Pena.

Kegiatan bedah buku dan diskusi yang bertempat di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado itu terselenggara atas kolaborasi Formapas dengan Penerbit Globalindo, Studi Altenatif, dan Buku Sosial. Hadir dalam kegiatan tersebut selain mahasiswa program Pascasarjana IAIN Manado, mahasiswa program sarjana IAIN Manado, dan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Manado, juga turut hadir budayawan Sulawesi Utara, Reiner Emyot Ointoe, sejarawan yang juga dosen pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado, Roger Kembuan, S.S., M.Si., beberapa orang jurnalis, sejumlah aktivis, dan kalangan pegiat literasi di Sulawesi Utara.

Kegiatan bedah buku dan diskusi itu berlangsung sangat dinamis di bawah arahan moderator Faradila Bachmid yang juga merupakan Duta Baca Sulawesi Utara dan pendiri Perkumpulan Literasi Sulawesi Utara. Kedua narasumber mengungkapkan bahwa melalui buku "21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21", sang penulisnya, Yuval Noah Harari, mengingatkan tiga jenis ancaman utama untuk peradaban manusia, yaitu (1) perang nuklir, (2) perubahan iklim/keruntuhan ekologis, dan (3) disrupsi teknologi/biologis. Harari melalui bukunya itu menyarankan untuk memulai percakapan global tentang tiga ancaman utama peradaban manusia itu karena menurutnya masalah global tersebut hanya dapat diatasi dengan solusi global melalui tindakan nyata dan membuang berbagai keyakinan palsu. Dalam bukunya itu, Harari berharap bahwa "21 Lessons" akan membantu orang untuk memiliki lebih banyak kejelasan dan kesadaran tentang apa yang sedang terjadi di dunia saat ini dan pertanyaan dan diskusi mendesak dan relevan yang perlu menjadi fokus saat ini, serta pilihan dan konsekuensi yang dapat Homo Sapiens peroleh untuk arah baru yang dihadapi umat manusia dalam permasalahan yang kompleks. (Laporan: Wahyuningsih Sutrisno, Sekretaris Formapas IAIN Manado)

1-10 of 45