Galeri‎ > ‎

Dokumentasi


Rektor Hadiri Ujian Tesis

diposting pada tanggal 25 Agu 2019 05.37 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Pada Jumat (23/08/2019) Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado kembali menelorkan sebanyak tiga orang lulusan. Ketiga lulusan itu masing-masing dua lulusan berasal dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan satu lulusan berasal dari Program Studi Hukum Keluarga (AS).

Penetapan ketiga lulusan itu dilakukan setelah mereka dinilai berhasil mempertahankan tesisnya di hadapan para dewan penguji yang dipimpin langsung oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag.

Sidang Ujian Tesis yang berlangsung di ruang ujian Pascasarjana IAIN Manado itu juga turut dihadiri oleh Rektor IAIN Manado, Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D yang bertindak sebagai penguji utama dari salah satu dari tiga mahasiswa yaitu Miranty Fatimah Tanduk.

Miranty Fatimah Tanduk yang mengajukan tesis berjudul Manajemen Pengembangan Profesionalisme Guru di Sekolah Dasar Islam Terpadu Harapan Bunda Manado mendapat pertanyaan kritis dari Rektor IAIN Manado, baik tentang substansi masalah, substansi teori, dan subtansi objek riset, maupun implikasi metodologi riset yang digunakan. Menurut Rektor, salah satu kelemahan yang umum terjadi dalam penelitian mahasiswa adalah soal keterbatasan teori dan kelemahan metodologi. "Karena itu mahasiswa harus memiliki penguasaan teori yang mantap dan metodologi riset yang memadai untuk menghasilkan suatu karya penelitian tesis yang lebih bermutu", pesannya. (at)

Ujian Masuk Mahasiswa Baru

diposting pada tanggal 25 Agu 2019 04.46 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui25 Agu 2019 04.48 ]

Pasca, ICnews - Program Pascasarjana IAIN Manado telah menyelenggarakan UJian Masuk Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019/2020 yang dilaksanakan di Gedung Program Pascasarjana IAIN Manado pada Kamis (01/08/19).

Ujian ini diikuti oleh calon mahasiswa baru Program Pascasarjana, yang akan masuk di empat Program Studi yaitu; Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Ahwalul Syakhsiyyah (AS), dan Ekonomi Syariah (ES). Para peserta ujian sangat antusias mengikuti test masuk tersebut.

Kegiatan ini dihadiri dan dibuka langsung oleh Direktur Program Pascasarjana, Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag dan didampingi oleh para Ketua Program Studi, Dr. Muh. Idris, M.Ag., (Ketua Prodi PAI dan Plt. Ketua Prodi MPI) dan Dr. Evra Willya, M.Ag. (Ketua Prodi AS dan Plt. Ketua Prodi ES).

Dalam pembukaan tersebut Direktur menyampaikan bahwa "Ujian masuk ini merupakan tradisi akademik yang harus dijaga untuk meningkatkan kualitas sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru".

Sambutan Direktur ini diakhiri dengan ucapan Selamat mengikuti ujian dan semoga sama-sama dapat bergabung dalam Civitas Akademik Program Pascasarjana IAIN Manado.

Sosialisasi di Pengadilan Agama Bitung dan Kemenag Kota Bitung

diposting pada tanggal 25 Mei 2019 08.49 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui25 Mei 2019 08.52 ]

IAIN Manado - Program Pascasarjana IAIN Manado dalam rangka penerimaan mahasiswa baru 2019-2020, Jumat (24/05/2019) laksanakan sosialisasi di Pengadilan Agama Bitung dan Kantor Kementerian Agama Kota Bitung. Tim sosialisasi terdiri dari Dr. Radliyah Hasan Jan, S.E., M.Si., (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan), Dr. Rosdalina, M.Hum. (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam), dan Dr. Edi Gunawan (Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah).

Dr. Radliyah Hasan Jan, S.E., M.Si yang bertindak sebagai ketua tim sosialisasi penerimaan mahasiswa baru 2019-2020 Program Pascasarjana IAIN Manado berharap bahwa sosialisasi yang dilakukan ini dapat lebih memperkenalkan Program Pascasarjana IAIN Manado kepada masyarakat luas sehingga dari waktu ke waktu secara kualitas maupun kuantitas input mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Manado dapat lebih meningkat.

Lanjut diungkapkan Dr. Radliyah bahwa sosialisasi penerimaan mahasiswa baru
Program Pascasarjana IAIN Manado selain dipusatkan di Kota Manado juga diagendakan akan dilakukan di Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, dan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag, secara terpisah mengungkapkan bahwa ke depan Program Pascasarjana harus memaksimalkan potensi calon mahasiswa fresh graduate. Hal ini salah satunya dapat ditempuh melalui program scholarship atau berupa bantuan biaya studi bagi lulusan program sarjana berprestasi dari setiap fakultas yang ada di IAIN Manado. "Dengan cara demikian, Program Pascasarjana dapat memperoleh input mahasiswa yang lebih bermutu", lanjutnya. (at) 

Laksanakan Kuliah Tamu, Program Pascasarjana Hadirkan Direktur PTKI

diposting pada tanggal 19 Apr 2019 07.19 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui19 Apr 2019 08.45 ]

IAIN Manado -  Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado pada Senin (15/04/2019) kembali menyelenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Arskal Salim GP, M.A, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag R.I.

Kuliah tamu yang bertempat di Aula Program Pascasarjana itu diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Pascasarjana. Juga turut hadir mengikuti kuliah tamu adalah pelaksana tugas Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, para pelaksana tugas Wakil Rektor, pelaksana tugas Direktur, pelaksana tugas Dekan, dosen dan tenaga kependidikan IAIN Manado.

Prof. Arskal dalam kuliah tamu bertajuk "Manajemen Capacity Building dalam Meningkatkan Mutu
Akademik dan Kelembagaan Pascasarjana di Perguruan Tinggi"  lebih banyak menyoroti tentang Pendidikan Tinggi Islam di Era Industry 4.0 dan Society 5.0. Mengutip berbagai sumber, Prof. Arskal yang meraih gelar doktor pada Melbourne University, Australia, mengemukakan bahwa karakterisitik perguruan tinggi di Era Industry 4.0 antara lain (1) perguruan tinggi bukan kumpulan sivitas akademika, tetapi partisipasi sivitas akademika dalam inovasi sosial, (2) di perguruan tinggi bukan alih pengetahuan, tetapi rekonstruksi pengetahuan dengan peserta didik, (3) perguruan tinggi bukan pengguna pengetahuan, tetapi pencipta pengetahuan (konsep, model, data, klasifikasi, purwarupa) dan pusat kekayaan intelektual, (4) perguruan tinggi adalah pengembangan dan produksi teknologi tepat guna untuk implementasi pengetahuan menjadi realitas, (5) perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan usaha/perintis (start-ups), (6) perguruan tinggi berorientasi pada pengembangan jejaring komunikasi untuk koordinasi subjek terhadap isu-isu strategis, (7) perguruan tinggi merupakan pusat pajangan kisah sukses untuk hasil inovasi atau praktik baru, dan (8) perguruan tinggi harus memiliki Kemandirian administrasi dan keuangan.

Terkait dengan perkembangan terkini (Society 5.0), Prof. Arskal mengemukakan bahwa hal ini dicirikan oleh kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas ditandai dengan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pemecahan masalah sosial. Dalam kaitan ini, Prof. Arskal yang juga merupakan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengingatkan agar Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) perlu mempersiapkan diri sehingga perguruan tinggi Islam  dapat survive dan dapat berkompetisi di Era Industry 4.0 dan Society 5.0.

Ia mengingkatkan bahwa khittah Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam adalah mengantarkan pada pencapaian- pencapaian tinggi di berbagai bidang dan landasan membangun peradaban maju dan unggul melalui (1) pengembangan keilmuan, sains, dan teknologi, (2) internalisasi moderatisme agama, (3)  meneguhkan ideologi keindonesiaan, dan  (4)  mentransformasi dan mendampingi masyarakat.

Merujuk pada pandangan Daniel Bell, Prof. Arskal mengemukakan 5 trend atau kecenderungan
Industri 4.0, yaitu (1) kecenderungan integrasi ekonomi. Pendidikan Tinggi Islam karenanya harus memiliki daya tawar secara ekonomi, (2) kecenderungan fragmentasi politik. Pada konteks ini, Pendidikan Tinggi Islam harus mengedukasi pada toleransi, (3) kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technology). Agar tetap relevan keberadaanya, Pendidikan Tinggi Islam harus terintegrasi dengan Teknologi Informasi (e-learning, mobile learning, online course), (4) kecenderungan interdependensi. Pendidikan Tinggi Islam harus berorientasi pada pendidikan interdisipliner (lintas disiplin ilmu), kolaborasi antarinstitusi dan antarnegara, dan (5) kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan penguatan nilai agama Islam dan pendidikan karakter.

Di bagian akhir kuliahnya, Prof, Arskal menegaskan bahwa menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, PTKI harus (1) menyesuaikan kebutuhan progam studinya dengan kebutuhan industri, (2) mengajarkan keterampilan (skill) yang diperlukan di Industry 4.0 dan Society 5.0, (3) mengajarkan budaya (culture) riset interdisipliner, (4) mengajarkan budaya (culture) inovasi, dan (5) mengajarkan budaya (culture) pelayanan (service) yang baik. (at) 

Rapat Evaluasi Pembelajaran dan Perencanaan Kegiatan 2019

diposting pada tanggal 25 Mar 2019 06.54 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui19 Apr 2019 06.50 ]

IAIN Manado - Memasuki pelaksanaan perkuliahan semester Genap 2018-2019, Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado pada Jumat (15/03/2019) bertempat di Ruang Rapat Pascasarjana laksanakan rapat koordinasi dengan seluruh jajaran dosen. Rapat koordinasi tersebut membahas dua agenda utama, yaitu evaluasi pelaksanaan perkuliahan semester ganjil dan perencanaan perkuliahan semester genap.

Selain itu, rapat yang dipimpin langsung oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd, juga dibahas kegiatan Program Pascasarjana yang akan dilaksanakan selama semester genap berjalan.

Para dosen yang hadir aktif memberikan masukan yang konstruktif untuk pengembangan mutu akademik Program Pascasarjana, antara lain sistem pengendalian karya ilmiah (tesis) mahasiswa dan sistem rekruitmen mahasiswa baru. (ridho)

Ramah Tamah Wisudawan Angkatan ke-3 Program Pascasarjana

diposting pada tanggal 4 Mar 2019 08.33 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Usai pelaksanaan
wisuda Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado yang sukses dihelat pada Kamis (28/02/2019), wisudawan Program Pascasarjana IAIN Manado pada Sabtu (02/03/2019) laksanakan kegiatan ramah tamah sebagai wujud kesyukuran atas keberhasilan merampungkan studi.

Acara yang berlangsung di Aula Program Pascasarjana itu dihadiri oleh berbagai kalangan antara lain Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd., Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Yasin, M.Si., Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D., Ketua Lembaga Penjaminan Mutu, Dr. Husni Idris, M.Pd., beberapa pejabat di tingkat fakultas, dan dosen pada Program Pascasarjana.

Kegiatan yang diinisiasi oleh para wisudawan itu turut pula dihadiri oleh unsur keluarga para wisudawan. Kehadiran keluarga para wisudawan itu semakin menambah suasana kekeluargaan dan keakraban yang tercipta sepanjang acara ramah tamah berlangsung. 

Dr. Ardianto, M.Pd., mewakili pengelola program studi, dalam laporannya menyampaikan bahwa wisuda program pascasarjana angkatan ke-3 ini diikuti oleh 29 wisudawan dari 4 program studi (Prodi) yang ada, yaitu Prodi Pendidikan Agama Islam, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Prodi Ekonomi Syraiah, dan Prodi Hukum Keluarga. "Dari tiga angkatan wisuda, Program Pascasarjana telah meluluskan sebanyak 90 lulusan', ungkap Ardianto.

Ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa program magister yang dikukuhkan dalam wisuda itu telah melalui suatu rangkaian proses sesuai dengan standar mutu pelaksanaan pendidikan pada Program Pascasarjana IAIN Manado, mulai dari proses perkuliahan, tahap pengajuan/ujian proposal penelitian, ujian komprehensif, ujian kelayakan tesis, hingga ujian tesis/gelar magister. Pengendalian mutu setiap tahapan proses yang ada secara maksimal telah diupayakan melalui sistim pengendalian mutu internal.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M,Pd dalam sambutannya mengungkapkan bahwa keberhasilan Program Pascasarja
na menelorkan 90 lulusan hingga saat ini ditopang oleh kesediaan bekerja dari para ketua program studi dan para staf melebihi waktu normal kerja di kampus. Keberhasilan ini pula tentu diperkuat oleh kerja sama seluruh dosen baik sebagai pangajar, pembimbing, dan penguji yang telah bekerja dan menunjukkan dedikasinya yang tinggi.

Dalam skema pengembangan Program Pascasarjana, Bolotio yang merupakan Direktur pertama Program Pascasarjana IAIN Manado ini menandaskan bahwa ke depan perlu dipertimbangkan pembatasan jumlah mahasiswa sehingga bisa lebih berfokus pada pengembangan kualitas. Ditambahkan pula bahwa proses pembelajaran bagi mahasiswa pada Program Pascasarjana harus diorientasikan pada pembelajaran berbasis riset sehingga setiap semester mahasiswa dapat menghasilkan karya ilmiah, baik dalam bentuk publikasi artikel dalam jurnal maupun buku.

Selanjutnya, Rektor IAIN Manado yang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Yasin, M.Si menyampaikan selamat  kepada para wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan studi. Ia berharap agar para wisudawan terus belajar meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang tinggi dalam berbagai sektor pekerjaan.

Acara ramah tamah yang menandai pelepasan para wisudawan Program Pascasarjana IAIN Manado itu dilengkapi dengan penyampaian kesan dan pesan mewakili wisudawan dan dosen. Kesan dan pesan mewakili wisudawan disampaikan oleh Suharto Abdul R. Rondo, M.Pd (lulusan Prodi Manajemen Pendidikan Islam) dan mewakili kesan dan pesan dari unsur dosen disampaikan oleh Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D. Menurut
Mappiasse, idealnya seorang dosen harus memiliki waktu yang cukup memadai untuk membaca, meneliti, dan menulis. Hal inilah yang sangat perlu  dipikirkan di masa mendatang.

Lanjut dikemukakannya bahwa kontribusi dosen dan mahasiswa pada masyarakat akan sangat bergantung pada visi yang dimilikinya sejak pertama kali ia berada di kampus. Fungsi sebagai akademisi, sebagai kaum intelek ini perlu divitalkan untuk berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara. "Khususnya sebagai dosen, harus kita pikirkan bahwa keberadaan kita di kelas bukan sekadar mengulang apa yang kita baca, tetapi apa yang kita sampaikan itu memiliki relevansi langsung yang memungkinkan eksistensi kita sebagai dosen berkontribusi terhadap masyarakat", ungkap Mappiasse.

Kepada para alumni, Mappiasse juga juga berpesan agar tidak berhenti belajar. "Berbagai piranti atau pisau analisis yang telah disampaikan oleh dosen dalam berbagai kesempatan berinteraksi, baik itu dalam perkuliahan, pembimbingan, atau pengujian agar kiranya itu dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis berbagai problem yang ada dalam masyarakat", pesannya.  

Di akhir acara juga diserahkan piagam penghargaan kepada para lulusan dengan kategori nilai tertinggi tingkat Program Pascasarjana dan Tingkat Program Studi. Selain itu, juga diserahkan piagam penghargaan untuk kategori lulusan terfavorit dan inspiratif yang diberikan kepada Yusmarni Kadengkang, M.Pd yang berhasil meraih gelar magister dalam usia 68 tahun. (at)

Rektor Kukuhkan 238 Lulusan

diposting pada tanggal 3 Mar 2019 07.50 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui4 Mar 2019 15.30 ]

IAIN Manado - Kamis (28/02/2019), Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si mengukuhkan sebanyak 209 lulusan sarjana strata satu (S1) dan 29 strata dua (S2) melalui upacara wisuda dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan di Grand Kawanua Covention Center. Lulusan tersebut berasal dari Fakultas Syariah (FS) sebanyak 75, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) sebanyak 82 lulusan, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) sebanyak 12 lulusan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebanyak 40 lulusan, dan Program Pascasarjana (PPs) sebanyak 29 lulusan.

Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Ketua Senat IAIN Manado. Dr. dr. Tubagus D. Abeng Ellong, M.Kes itu dihadiri oleh para anggota senat IAIN Manado, baik anggota senat unsur pimpinan, maupun anggota senat unsur perwakilan dosen. Selain itu, juga turut hadir beberapa pimpinan daerah yang tergabung dalam unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Sulawesi Utara sebagai undangan.

Hadir dalam kegiatan Wisuda Program Sarjana (S1) Angkatan ke-4 dan Wisuda Program Magister (S2) Angkatan ke-3 IAIN Manado memberikan orasi ilmiah adalah Prof. Phil. Kamaruddin Amin, Ph.D (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI). Manurut Prof. Kamaruddin, di masa depan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam dunia dan destinasi studi Islam. Idealisme ini terbangun dari fakta bahwa jumlah siswa-siswi tidak kurang dari 7 juta yang ada di 70 ribuan lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat madrasah ibtidaiyah hingga madrasah aliyah. Sementara itu, jumlah perguruan tinggi Islam negeri sebanyak 58 dan perguruan tinggi Islam swasta sebanyak 800-an dengan jumlah keseluruhan mahasiswa lebih dari 1 juta. "Ini adalah angka yang luar biasa, sehingga salah satu dari visi Kementerian Agama khususnya visi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban Islam dunia di masa yang datang. Menjadikan Indonesia sebagai destinasi atau tujuan studi Islam dunia", tandas Prof, Kamaruddin.

Lebih lanjut dikemukakan Prof. Kamaruddin, bahwa ada hal menarik dari struktur demografi Indonesia saat ini di mana yaitu 45% dari jumlah penduduk Indonesia (260 juta) berada pada usia anak kurang 25 tahun. Hal ini berarti bahwa 115 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak yang baru lahir hingga usia mahasiswa. Ini merupakan sebuah struktur demografi yang sangat unik dan menyebabkan Indon
esia mengalami bonus demografi (demographic dividend) yang oleh pengamat demografi global memprediksi Indonesia  akan menjadi negara terkuat ketujuh di dunia pada tahun 2045. Indonesia akan menjadi salah satu dari tujuh negara terkuat di dunia, baik secara ekonomi, budaya, maupun militer dan seterusnya ketika Indonesia mampu memberikan skill pada generasi mudanya yang jumlahnya 45% itu.

Pertanyaan selanjutnya menurut Prof. Kamaruddin ialah di mana posisi perguruan tinggi Islam, posisi mahasiswa Islam? Salah satu kekhasan Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara-negara muslim lainnya ialah sikap moderasi beragama. Dan, inilah yang mengakibatkan Indonesia menjadi harapan dunia Islam bahkan harapan dunia pada umumnya bahwa Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam dunia. "Negara muslim yang berhasil mempertemukan antara Islam dan demokrasi adalah Indonesia. Kompatibilitas antara Islam dan demokrasi itu dapat ditemukan di bumi Indonesia", jelas Prof. Kamaruddin.

"Lalu di mana posisi kita?", tanya Prof. Kamaruddin. Menurutnya, kita hidup di era globalisasi, di era revolusi industri 4.0. Perguruan tinggi Islam harus mampu berkontribusi secara fundamental dalam menghadapi dan berkontribusi dalam era revolusi
industri 4.0. Salah satu kontribusi perguruan tinggi Islam di Indonesia yang kerap tidak disadari ialah keberhasilan menghasilkan generasi Islam menengah terdidik yang kritis yang mampu menjembatangi dan menjelaskan antara Islam dan modernitas, antara Islam dan demokrasi.

Prof. Kamaruddin berharap bahwa perguruan tinggi Islam harus mampu mencetak, mampu melahirkan generasi muda Islam, generasi muda bangsa yang mampu survive dalam revolusi industri 4.0, revolusi industri generasi keempat. Hal-hal prinsip yang perlu dikuatkan ialah literasi digital dan language skill utamanya bahasa Inggris (dan bahasa Arab) dari para mahasiswa di perguruan tinggi Islam. Dua syarat ini yang menjadikan lulusan perguruan tinggi Islam dapat berkontribusi secara fundamental dan signifikan dalam era revolusi industri 4.0. Jika tidak, maka lulusan perguruan tinggi Islam akan termarginalkan dalam persaingan global. Oleh karena itu, secara khusus Prof. Kamaruddin berpesan kepada para wisudawan agar terus belajar, terus meningkatkan keterampilan berbahasa asing (Inggris dan Arab) dan literasi digital agar tidak tereliminasi dalam kompetesi global yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka menjadi suatu keniscayaan. Dengan penguasaan substansi bidang keahlian yang ditunjang dengan keterampilan bahasa asing dan literasi digital yang tinggi, saya yakin para wisudawan akan mampu survive dalam persaingan global", tegas Prof. Kamaruddin.

Sementara itu, Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M,Si dalam laporan akademiknya mengungkapkan bahwa wisuda ini harus dipahami sebagai sebuah momentum dan peristiwa penting untuk menandai batas antara tahapan belajar di kampus yang dijalani oleh mahasiswa dan tahapan kehidupan pengalaman ilmu di dunia kerja, dunia profesi, dan dunia karir yang dijalani oleh lulusan perguruan tinggi. "Sebagai lulusan IAIN Manado, saudara-saudara telah dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Saudara wisudawan juga sudah mendapatkan kematangan diri dalam kecerdasan majemuk; spiritual, intelektual, sosial, dan ekonomis. Lebih dari itu, saudara wisudawan juga telah mendapatkan pengalaman belajar yang berupa kecakapan hidup (soft skill) sebagai modal dasar dalam menapaki kehidupan Saudara kini dan di masa depan.

"Dengan modal tersebut, kami yakin bahwa Saudara-saudara dapat segera mengintegrasikan diri dengan lingkungan, memanfaatkan dan menciptakan kesempatan, dan mampu berkompetisi secara sehat dan sportif" ungkap Gonibala.

Dalam laporannya, Rektor pertama IAIN Manado juga itu menyampaikan capaian akreditasi institusi IAIN Manado saat ini yang telah berhasil memperoleh nilai B. "Hal ini merupakan modal penting bagi civitas akademika IAIN Manado untuk mewujudkan harapan menjadi Universitas Islam Negeri Manado", tegasnya.

"Pelaksanaan wisuda hari ini juga sangat istimewa karena wisuda ini diikuti oleh seorang wisudawati program magister yang telah berumur 68 tahun", ungkap Gonibala. Lanjut dikemukakannya bahwa wisudawati ini merupakan suatu inspirasi nyata bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia, 'Tuntutlah ilmu d
ari buaian sampai ke liang lahat'.

Selanjutnya, Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili oleh Dr. Frangky Manumpil, M.Si, Kepala Biro Ekonomi dan Sumber Daya Alam Setda Propinsi Sulawesi Utara, dalam sambutannya mengharapkan agar para lulusan IAIN Manado dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah. Salah satu titik konsentrasi pembangunan daerah ialah pengembangan kualitas sumber daya manusia. “Saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati beserta keluarganya. Harapan saya, jadilah para sarjana yang disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab pada daerah dan bangsa,” tandasnya.

Pelaksanaan wisuda ini berjalan lancar sesuai dengan rundown acara wisuda yang diagedakan panitia. Ketua Panitia Pelaksana Wisuda angkatan ke-4 Program Sarjana dan angkatan ke-3 Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr, Radliyah Hasan Jan, S.E., M.Si menyampaikan rasa terima kasih dan memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah ikut bekerja sama dan berkontribusi positif menyukseskan pelaksanaan kegiatan wisuda. ###

Laporan: Ardianto Tola

Program Pascasarjana Meyudisium 29 Lulusan

diposting pada tanggal 27 Feb 2019 14.18 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui27 Feb 2019 14.23 ]

IAIN Manado - Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado pada Rabu (27/02/2019) jelang pelaksanaan wisuda yang akan dihelat pada Kamis (28/02/2019) melaksanakan yudisium terhadap 29 lulusan yang terdiri Program Studi Pendidikan Agama Islam (5 lulusan), Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (13 lulusan), Program Studi Hukum Keluarga (4 lulusan), dan Program Studi Ekonomi Syariah (6 lulusan). 

Kegiatan yudisium yang dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd itu turut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang II IAIN Manado, Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D., dan beberapa orang dosen pada Program Pascasarjana.

Pelaksanaan yudisium tersebut merupakan salah satu prosedur yang ditempuh setelah mahasiswa dinyatakan lulus dalam berbagai tahapan ujian antara lain ujian mata kuliah, ujian proposal tesis, ujian komprehensif, ujian hasil penelitian/kelayakan tesis, dan ujian tesis/gelar magister (S2). Semua tahapan ujian yang ada diikuti oleh setiap mahasiswa melalui proses yang konsisten dan taat asas, serta melalui sistem pengendalian mutu akademik yang rigid. (at)

   

Usia 68 Tahun Raih Gelar Magister

diposting pada tanggal 25 Feb 2019 19.05 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui25 Feb 2019 21.35 ]

IAIN Manado - Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan (MPI) Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Yusmarni Kadengkang (usia 68 tahun), pada Selasa (26/02/2019) berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul "Inspirasi dan Motivasi Menjadi Guru Profesional di SMK Kesehatan Kharisma Totabuan Kotamobagu" di hadapan dewan pengguji masing-masing, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd. (Ketua Dewan Penguji), Dr. Ardianto, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Dewan Penguji), Dr. Rukmina Gonibala, M.Si (Penguji 1), Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D (Penguji 2), dan Dr. Adri Lundeto, M.Pd.I (Penguji 3).

Meski usianya terbilang senja, tak menyurutkan semangat dan antusiasme Yusmarni Kadengkan bersama dengan teman-teman mahasiswa seangkatannya berusaha merampungkan studinya pada Program Pascasarjana IAIN Manado. Bunda Yusmarni, demikian mahasiswa akrab menyapanya, tak mau mendapat perlakuan istemewa. Ia mengikuti semua prosedur penyelesaian studi dengan sabar dan tekun. Baginya, semua proses dilakukan dengan enjoy dan tanpa keluhan.

Dalam ujian tesis/gelar magister yang dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd., Yusmarni Kadengkang dapat menjawab pertanyaan para dewan penguji secara lugas.

Ia berharap bahwa apa yang dilakukannya dapat menjadi inspirasi mahasiswa yang lain bahwa mengikuti proses amatlah penting. Proses yang diikuti dengan baik akan memperoleh hasil yang maksimal. Dan, inilah yang telah ditunjukkan oleh Yusmarni Kadengkang dalam menempuh pendidikan jenjang magister pada Program Pascasarjana IAIN Manado.

Dalam pesan-pesan akademik yang disampaikan oleh Sulaiman Mappiasse. Lc., M.Ed., Ph.D., selaku pembimbing utama penulisan tesis dalam sesi penutupan sidang ujian tesis berpesan agar Yusmarni Kadengkang tetaplah menjadi inspirator bagi semua orang. "Manfaatkanlah ilmu yang diperoleh untuk kemaslahatan dan kemajuan pendidikan di tempat ibu bekerja" ungkap Mappiasse. (at)

Serba-serbi Persiapan Jelang Asesmen Lapangan AIPT

diposting pada tanggal 17 Feb 2019 07.35 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui17 Feb 2019 08.07 ]

IAIN Manado - Menyambut visitasi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado telah mempersiapkan segala sesuatunya. Visitasi tim asesor BAN-PT yang terdiri dari Prof. Dr. Arifuddin Ahmad , M.Ag. (UIN Alauddin Makassar), Dr. Udik Budi Wibowo, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta), Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Dr. Akhmad Rifai, M.Phil. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) diagendakan berlangsung selama 3 hari, 17-19 Februari 2019.

Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si., meminta agar seluruh unit dan segenap unsur sivitas akademika berpartisipasi, mendukung, dan menyukseskan pelaksanaan akreditasi tersebut, sehingga IAIN Manado bisa berhasil mendapatkan nilai maksimal. Untuk itu, beberapa persiapan telah dilakukan mulai merapatkan barisan, perbaikan, dan kelengkapan portofolio hingga sosialisasi pada mahasiswa, staf pendukung, dosen dan pimpinan unit kerja.

Mengikuti arahan Rektor dan harapan publik utamanya para pengguna layanan pendidikan (mahasiswa)  terhadap status akreditasi institusi, Program Pascasarjana sebagai salah satu unit pelaksana pendidikan di IAIN Manado juga ikut serta berpartisipasi, mendukung, dan menyukseskan pelaksanaan akreditasi institusi yang baru pertama kalinya dilaksanakan sejak institusi perguruan tinggi ini berdiri se
cara otonom tahun 1997.

Serba-serbi persiapan jelang pelaksanaan AIPT yang dilakukan oleh Program Pascasarjana tampak dari berbagai kegiatan yang dilakukannya antara lain penataan arsip
data dokumen administrasi umum dan administrasi akademik, penataan ruang administrasi, ruang perpustakaan, ruang kuliah, dan ruang pimpinan.

Hal yang tidak kalah pentingnya dilakukan oleh Program Pascasarjana dalam persiapan menyambut pelaksanaan AIPT ialah penataan stand Program Pascasarjana di ruang utama pelaksanaan kegiatan akreditasi yang berada di gedung perpustakaan IAIN Manado.

Keterbatasan sumber daya yang ada tidak menyurutkan semangat dan antusiasme seluruh jajaran Program Pascasarjana IAIN Manado mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam AIPT. Hal tersebut tampak dari keterlibatan seluruh komponen sumber daya manusia yang dimilikinya mulai dari Direktur, Ketua Program Studi, Kasubag Tata Usaha, hingga staf menyatu padu dalam semangat yang sama dengan prinsip sederhana ‘bekerja bersama itu indah’.

Kebersamaan adalah aspek yang sangat penting dalam organisasi. Kebersamaan (togetherness) mampu mempersatukan, memberikan keamanan, dukungan, dan juga perasaan saling memiliki satu sama lain. Dengan begitu, tidak sulit menjawab pertanyaan ‘If you don't have money, what can you do?’.  (at)

1-10 of 54