Galeri‎ > ‎

Dokumentasi


Formapas Kolaborasi Laksanakan Bedah Buku dan Diskusi

diposting pada tanggal 20 Nov 2018 17.59 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Manado pada Rabu (17/10/2018) melaksanakan kegiatan bedah buku dan diskusi. Buku yang dibedah dan diskusikan adalah buku karya Yuval Noah Harari berjudul "21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21". Tampil sebagai narasumber adalah Dr. Arhanuddin, M.Pd.I, dosen Program Pascasarjana IAIN Manado dan Haz Algebra, penyair, aktivis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Dialog Peradaban L’Nous (Philosophy, Art & Science) dan Komunitas Bibir Pena.

Kegiatan bedah buku dan diskusi yang bertempat di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado itu terselenggara atas kolaborasi Formapas dengan Penerbit Globalindo, Studi Altenatif, dan Buku Sosial. Hadir dalam kegiatan tersebut selain mahasiswa program Pascasarjana IAIN Manado, mahasiswa program sarjana IAIN Manado, dan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Manado, juga turut hadir budayawan Sulawesi Utara, Reiner Emyot Ointoe, sejarawan yang juga dosen pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado, Roger Kembuan, S.S., M.Si., beberapa orang jurnalis, sejumlah aktivis, dan kalangan pegiat literasi di Sulawesi Utara.

Kegiatan bedah buku dan diskusi itu berlangsung sangat dinamis di bawah arahan moderator Faradila Bachmid yang juga merupakan Duta Baca Sulawesi Utara dan pendiri Perkumpulan Literasi Sulawesi Utara. Kedua narasumber mengungkapkan bahwa melalui buku "21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21", sang penulisnya, Yuval Noah Harari, mengingatkan tiga jenis ancaman utama untuk peradaban manusia, yaitu (1) perang nuklir, (2) perubahan iklim/keruntuhan ekologis, dan (3) disrupsi teknologi/biologis. Harari melalui bukunya itu menyarankan untuk memulai percakapan global tentang tiga ancaman utama peradaban manusia itu karena menurutnya masalah global tersebut hanya dapat diatasi dengan solusi global melalui tindakan nyata dan membuang berbagai keyakinan palsu. Dalam bukunya itu, Harari berharap bahwa "21 Lessons" akan membantu orang untuk memiliki lebih banyak kejelasan dan kesadaran tentang apa yang sedang terjadi di dunia saat ini dan pertanyaan dan diskusi mendesak dan relevan yang perlu menjadi fokus saat ini, serta pilihan dan konsekuensi yang dapat Homo Sapiens peroleh untuk arah baru yang dihadapi umat manusia dalam permasalahan yang kompleks. (Laporan: Wahyuningsih Sutrisno, Sekretaris Formapas IAIN Manado)

Profesor Santhakumar: Kehidupan Perempuan di Indonesia Lebih Baik daripada di India

diposting pada tanggal 19 Nov 2018 08.04 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui19 Nov 2018 17.24 ]

IAIN Manado - Demikian kesimpulan kuliah tamu bertajuk "School for All: Comparing Indonesia
and India" yang dibawakan oleh Profesor V. Shantakumar, Ph.D, dosen dan peneliti dari Azim Premji University, India pada Senin (19/11/2018) di Aula Program Pascasarjana. Kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana IAIN Manado itu diikuti oleh mahasiswa program magister dan program sarjana serta dosen IAIN Manado dibuka oleh Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd. Dalam sambutannya, Rivai Bolotio menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan kesediaan Prof. Santhakumar memberikan kuliah tamu di Program Pascasarjana.  "Ini adalah wujud komitmen Program Pascasarjana IAIN Manado untuk terus mendorong kemitraan dengan ilmuwan dan peneliti internasional sehingga para mahasiswa dan dosen memiliki wawasan global", ungkapnya.

Di awal paparan materinya, Prof. Santhakumar yang dimoderatori oleh Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D, dosen Program Pascasarjana yang juga merupakan Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan IAIN Manado mengungkapkan bahwa sekitar setengah dari gadis remaja di India tidak menyelesaikan pendidikan hingga kelas sepuluh atau jenjang SMP. Dikemukakan bahwa para orang tua di India rata-rata hanya mendorong anak laki-laki mereka mengenyam pendidikan tinggi. Perempuan di India lebih banyak diorientasikan bekerja di sektor domestik. Jumlah perempuan yang mampu bekerja pada sektor publik sangat minim . Dan, hal ini menurut Prof. Santhakumar berimplikasi terhadap perkembangan sosial dan ekonomi India.

Pencitraan positif melalui berbagai pemberitaan tentang kemajuan pendidikan di India seperti banyaknya saintis atau ilmuwan di negara itu yang mampu bekerja dan berkiprah di tingkat internasional menurutnya di saat yang sama juga terdapat sebuah fakta bahwa saat ini banyak jumlah warga negara di India yang tidak dapat mengeny
am pendidikan atau menyelesaikan sekolah khususnya bagi kaum perempuan. "Ini merupakan dua kondisi ektsrem yang menjadi kenyataan di India dewasa ini", ungkap Prof. Santhakumar.

Hal berbeda terjadi di Indonesia. Prof. Santhakumar mengungkapkan bahwa di Indonesia banyak perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi dan dapat bekerja di luar sektor domestik. Kondisi ini menurutnya sangat menguntungkan dalam konteks perbaikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Namun demikian, Prof. Santhakumar juga tidak menampik adanya isu diskriminasi gender di Indonesia. Setidaknya, kondisi ini menurutnya sangat berubah pasca rezim orde baru di bawah kekuasaan Soeharto, di mana perempuan semakin memperoleh kesempatan yang luas dalam mengakses pendidikan tinggi dan bekerja di sektor publik.

Perbedaan mendasar antara Indonesia dan India dalam hal kehidupan perempuan yaitu di Indonesia pihak keluarga mempelai laki-lakilah yang harus membayar sejumlah uang (emas kawin) kepada pihak mempelai perempuan. Sebaliknya, di India, pihak perempuan yang memberi mahar kepada laki-laki. Adat-istiadat memberi mahar kepada pihak perempuan inilah yang cenderung mendorong para orang tua khususnya di Indonesia untuk memperhatikan pendidikan bagi anak perempuan untuk memperoleh nilai yang tinggi terhadap laki-laki atau mendapat mahar yang tinggi. Sebaliknya, di India, sebagian orang tua enggan menyekolahkan anak perempuan mereka pada jenjang lebih tinggi karena perempuan yang memiliki jenjang pendidikan tinggi dan tentu pula penghasilan yang tinggi dan menikah dengan laki-laki dengan pendidikan dan penghasilan rendah, maka perempuan bertanggung jawab secara ekonomi terhadap keluarga suaminya. "Jadi, keluarga suami yang akan menikmati harta dan penghasilan istri", ungkap Prof Santhakumar. Oleh karena itu, menurut Prof. Santhakumar, di India terdapat suatu kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan perempuan, maka ia akan semakin berkeinginan pula menikah dengan laki-laki dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Dan, hal ini merupakan harapan orang tua, baik di Indonesia maupun di India, bahwa anak perempuan mereka mendapat suami dengan tingkat pendidikan tinggi.

Bedanya, perempuan di India tidak memiliki kebebasan memilih pasangan suami. Disebutkan oleh Prof. Santhakumar bahwa 90% perempuan India menikah atas pilihan orang tua. Bagi orang tua di India sangat menghawatirkan anak gadis mereka yang berpacaran atau menjalin hubungan dengan laki-laki (kontak fisik) sebelum menikah. Hal ini terutama dipengaruhi oleh sistem kasta yang berlaku di India. Orang tua sangat khawatir anak perempuan mereka memilih laki-laki dari kasta yang berbeda. Meskipun ada ketakutan akan seksualitas perempuan di berbagai masyarakat yang sedang berkembang, tetapi hubungan seksual/pernikahan antarkastalah yang menjadi faktor ketakutan paling besar di India. Seksualitas perempuan dikontrol (dengan tidak diperbolehkannya hubungan dengan laki-laki dari kasta dan kalangan sosial yang berbeda) demi kehormatan keluarga. Dalam konteks inilah para orang tua di India akan sangat ketat mengawasi anak perempuan mereka.

Sesuatu yang berbeda dengan Indonesia. Melalui riset lapangan yang dilakukannya di berbagai daerah di Indonesia, Prof Santhakumar menemukan bahwa tidak ada ketakutan di antara para orang tua jika anak perempuan mereka yang belum menikah bekerja jauh dari rumah, kemudian bertemu dan berhubungan dengan seseorang (laki-laki). Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi dan mewawancarai beberapa orang tua (kelas menengah bawah) di berbagai daerah di Indonesia dan memperoleh data bahwa anak perempuan yang belum menikah bekerja di luar kota dan memiliki hubungan asmara hingga menikah dengan laki-laki pilihan sendiri. Para orang tua di Indonesia tidak enggan mengirim anak perempuan mereka ke tempat yang jauh untuk sekolah atau bekerja, termasuk penghasilan sendiri dan tidak memaksa perempuan untuk ikut keluarga laki-laki apabila sudah menikah. "Di beberapa daerah di Indonesia yang telah saya kunjungi sangat umum melihat perempuan pulang ke rumahnya di pinggiran kota dengan berkendara motor sendirian pada jam 11 atau 12 malam", ungkap Prof. Santhakumar. Mobilitas kerja perempuan yang tinggi inilah yang menjadikan perempuan Indonesia relatif memiliki tingkat finansial yang tinggi. 

Menurut Prof Santhakumar, perkembangan industri melalui kebijakan ekonomi bebas telah
menciptakan pekerjaan untuk perempuan di Indonesia. Hal ini juga telah mengubah pola pikir orang tua tentang peran pendidikan tinggi bagi anak-anak mereka. Meski dulu pernah ada diskriminasi terhadap perempuan untuk bekerja, namun kini hal itu telah berubah dengan sangat drastis. Pada intinya, tidak ada hal yang melarang perempuan Indonesia untuk bersekolah. Ia membadingkan dengan negara muslim, Pakistan dan Afganistan, dua negara yang berada di sebelah barat India. Di kedua negara itu menurut Prof. Santhakumar, banyak perempuan tidak bersekolah dan dan kebanyakan mereka bekerja di sektor domestik. Berbeda dengan Bangladesh, negara yang berada di sebelah timur India itu sangat berbeda dengan kehidupan perempuan di Pakistan dan di Afganistan. Perempuan Bangladesh memperoleh akses pendidikan tinggi dan memperoleh kesempatan yang luas bekerja di sektor publik.

Dari segi pendidikan, Prof. Santhakumar melihat bahwa para orang tua di Indonesia menyekolahkan anak perempuan mereka hingga jenjang pendidikan tinggi dan hampir semua orang Indonesia berpikir pentingnya pekerjaan bagi perempuan. "Saya bisa melihat bagaimana para orang tua kelas menengah mendorong anak perempuan mereka untuk pergi dan tinggal di luar kota dan bekerja, dan di situlah kemudian dia menemukan pasangan hidup", ungkapnya.

Di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim mayoritas, meski lahir kebangkitan keberagamaan, tetapi di saat yang sama tetap mendorong perempuan untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan tinggi. "Satu hal yang menarik dalam kunjungan saya di beberapa sekolah di pinggiran kota Manado, misalnya, saya memperoleh data dari para guru di sekolah bahwa anak-anak perempuan lebih aktif mengikuti pelajaran dibandingkan anak laki-laki", ungkap Prof. Santhakumar. Singkatnya, perempuan Indonesia menyelesaikan pendidikan sekolah dan berpartispasi dalam pekerjaan (berpenghasilan) di mana pun pekerjaan itu tersedia. (at)

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Harus Mampu Lahirkan Generasi Muslim Progresif

diposting pada tanggal 7 Nov 2018 07.03 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado – Program Pascasarjana IAIN Manado kembali menggelar kuliah tamu bertajuk Habits of Successful Research Higher Degree Program
pada Rabu (07/11/2018) bertempat di Aula Program Pascasarjana. Kuliah tamu
yang dibuka secara resmi oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd itu, selain dihadiri oleh mahasiswa program magister, juga turut dihadiri oleh pejabat di lingkungan Program Pascasarjana, antara lain Dr. Drs. Naskur, M.HI (Ketua Prodi Hukum Keluarga/Plt Ketua Prodi Ekonomi Syariah) dan Dr. Ardianto, M.Pd. (Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam/Plt Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam, juga turut dihadiri oleh pejabat di lingkungan IAIN Manado sebagai dosen pada Program Pascasarjana antara lain Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si., Wakil Rektor II, Sulaiman Mappiasse, Lc., M.Ed., Ph.D, Dekan FUAD, Dr. Salma M.HI., Wakil Dekan I FTIK, Dr. Adri Lundeto, M.Pd.I., Wakil Dekan I FEBI, Dr. Radliyah Hasan Jan, M.Si., Wakil Dekan III FUAD, Dr. Musdalifah Dachrud, M.Si., Wakil Dekan II FUAD, Dr. Arhanuddin, M.Pd.I., dan beberapa dosen pada program magister (S2) dan sarjana (S1).

Dal
am sambutannya, Rivai Bolotio, mengungkapkan bahwa kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana sangat besar manfaatnya khususnya bagi para mahasiswa program magister. Oleh karena itu, ia meminta mahasiswa untuk mengikutinya secara aktif. Terlebih karena narasumber yang dihadirkan memiliki sejumlah pengalaman prestasi di bidang akademik termasuk pengalaman studinya di Australia. “Ini adalah silaturahmi intelektual, silaturahmi akademik”, bebernya.

Kuliah tamu yang dipandu oleh dosen Program Pascasarjana, Dr. Rosdalina, M.Hum, yang juga Wakil Dekan I Fakultas Syariah, menghadirkan narasumber Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed,
Ph.D yang saat ini menjabat Kepala Seksi Pengembangan Profesi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Subdirektorat Ketenagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama memberikan kuliah tamu di hadapan mahasiswa program magister Program Psacasarjana IAIN Manado.

Dalam kuliahnya, Muhammad Adib Abdushomad membeberkan beberapa guidance bagi mahasiswa untuk dapat menyelesaikan tugas akhir tesis tepat waktu. Ia mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang sering menjadi kendala umum dalam penyelesaian tugas akhir, yaitu (1) faktor personal (misalnya pengabaian pembimbing, benturan kepribadian, hambatan komunikasi, masalah ide, kendala bahasa, jarak, dan budaya); (2) faktor profesional (misalnya masalah kurangnya pengalaman pembimbing, wawasan dan pengetahuan pembimbing, dan juga kendala pada mahasiswa yang memang terkadang sulit untuk ditangani atau dibimbing), dan (3) faktor organisasi (misalnya terlalu banyak mahasiswa yang dibimbing, dukungan perguruan tinggi yang tidak memadai dan terlalu banyak pekerjaan administratif).

Oleh karena itu, menurutnya, agar dapat sukses menyelesaikan tugas akhir tepat waktu,
mahasiswa harus menjaga dan memelihara hubungan baik dengan pembimbing, tulis dan tunjukkan tulisan saat bimbingan, bersikap realistik sebab karya tesis ditulis bukan untuk meraih hadiah nobel,fokus dan katakan tidak pada semua hal yang mengganggu penulisan tesis, posisikan menulis tesis sebagai pekerjaan, mintalah bantuan dan jangan menutup diri, yakinkan diri  bahwa bisa menulis tesis, dan jangan lupa bahwa segala sesuatu yang dilakukan tidak lepas dari campur tangan Allah swt.

Muhammad Adib Abdushomad, yang juga merupakan dosen Pascasarjana Universitas Nahdatul Ulama, IAIN SNJ Cirebon, dan IAIN Pekalongan mengingatkan bahwa kampus seperti STAIN, IAIN, dan UIN harus mampu mencetak generasi muslim progresif. Generasi yang memiliki kemampun ilmu keislaman, yang mampu membaca kita
b kuning, membaca Alquran dengan yang baik. “Kita berharap mahasiswa kita ini menjadi manusia yang mempersatukan umat, menjadi Muslim yang meneduhkan. Orang lain melihat agama kita itu melalui praktek ummatnya, bagaiamana kita bisa mempersatukan umat, jika kita saja sesama muslim saling bertengkar, bagaimana kita bisa mempromosikan ajaran Islam kita yang Rahmatan Lil Alamin jika kita tidak bisa mempraktekan agama kita dengan benar. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin hanya akan mungkin terjadi jika praktek ummatnya dan kita semua mencerminkan pribadi yang membawa keteduhan, kedamaian, keilmuan. Bukan yang marah-marah. Itulah dakwah yang nyata dan itu menjadi tantangan, kita harus mampu mencetak generasi yang mampu mencerminkan ajaran Islam”, tegasnya.

Lanjut diungkapkan bahwa generasi Islam progresif ialah generasi yang memiliki ilmu agama dan ilmu umum yang tinggi dan tidak mendikotomikan di antara keduanya, tetapi merupakan suatu integrasi keilmuan yang satu sama lain saling bersinergi. (at)

Gina Nurvina Darise: Kecerdasan Eksistensial-Spiritual Tertinggi Pengaruhi IPK Mahasiswa

diposting pada tanggal 23 Sep 2018 07.22 oleh Pascasarjana IAIN MANADO

IAIN Manado - Jumat (21/09/2018), Program Pascasarjana IAIN Manado kembali telorkan lulusan magister dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Berlangsung di ruang ujian Program Pascasarjana, Gina Gurvina Darise berhasil mempertahankan hasil penelitian tesisnya berjudul "Multiple Intelligences dan Hubungannya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Mahasiswa IAIN Manado". Di hadapan dewan penguji masing-masing, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd (Ketua Dewan Penguji), Dr. Ardianto, S.Pd., M.Pd (Sekretaris Dewan Penguji), Dr. Rukmina Gonibala, M.Si (Penguji 1), Dr. dr. Taufik Pasiak, M.Kes, M.Pd.I (Penguji 2), dan Dr. Musdalifah Dachrud, S.Ag., S,Psi, M.Si, Psi. (Penguji 3), Gina yang adalah mahasiswa angkatan ke-2 Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam, tampil piawai menyajikan dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para penguji.

Melalui analisis regresi berrbasis data survai ex-post facto terhadap mahasiswa IAIN Manado, Gina menemukan bahwa kecerdasan eksistensial-spiritual mempunyai kontribusi paling signifikan terhadap capaian indeks prestasi kumulatif (IPK) mahasiswa, disusul kecerdasan interpersonal, kecerdasan musikal, kecerdasan lingusitik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Diungkapkan bahwa kecerdasan eksistensial-spiritual tidak mesti berhubungan dengan masalah agama. Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) mengacu pada keterampilan, kemampuan, dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan sumber utama dari semua (Tuhan Yang Maha Esa), keberhasian dalam menemukan makna hidup,  mengeksternalisasi perasaan akan makna dan nilai-nilai dalam kehidupan dan dalam hubungan dengan interpersonal setiap individu.

Dr. Rukmina Gonibala, Rektor IAIN Manado, yang bertindak sebagai penguji 1 memuji karya tesis Gina Nurvina Darise yang telah dikerjakan secara sungguh-sungguh. Secara khusus, ia juga mengapresiasi kecermatan Gina dalam menulis yang sangat minim ditemukan kesalahan-kesalahan teknis. "Bayaknya cakupan variabel (peubah) penelitian yang diteliti juga merupakan point utama kelebihan tesis ini dibandingkan tesis lainnya", lanjut Gonibala.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dr. Rivai Bolotio, M.Pd, Direktur Program Pascasarjana, yang bertindak sebagai ketua dewan penguji. Ia menilai bahwa dibutuhkan ketelatenan untuk menulis dalam ruang lingkup variabel yang sangat jamak. "Dengan mengkaji 9 variabel bebas dan  1 variabel terikat berarti diperlukan 10 konsep teori yang harus dijelaskan dan ini tentu membutuhkan tingkat ketekunan yang tinggi", ungkap Bolotio.  

Sementara itu, Dr. dr. Taufik Pasiak, M.Kes, M.Pd.I menyarankan agar hasil penelitian Gina Nurvina Darise ini dapat diimplikasikan dalam
pengembangan program pembelajaran di IAIN Manado. "Bahawa kecerdasan spiritual mempunyai kontribusi yang sangat signifikan terhadap capaian indeks prestasi kumulatif (IPK) mahasiswa, hal ini memperkuat tesis yang selama ini saya kembangkan tentang kecerdasan spiritual", ungkapnya. Pasiak yang adalah dosen tetap pada Fakultas Kedokteran Unsrat Manado berharap bahwa hasil penelitian Gina ini dapat menjadi rekomendasi bagi pimpinan IAIN Manado dalam merancang model pengembangan program pembelajaran dan penguatan akademik di IAIN Manado.

Gina yang ikut didampingi oleh kedua orang tua dan adiknya, mengungkapkan bahwa keberhasilan merampungkan penelitian tesisnya berkat kedisiplinan dan kecermatan kedua pembimbingya, yakni Dr. dr. Taufik Pasiak, M.Kes, M.Pd.I  dan Dr. Musdalifah Dachrud, S.Ag., S,Psi, M.Si, Psi. Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan yang dicapainya merupakan buah dari dukungan kedua orang tuanya. "Semoga tesis ini, merupakan pernyataan doa untuk kedua orang tuaku, sebagai penyemangat hidup bagi ayahku tercinta agar tetap diberikan kesehatan", pinta Gina.

Ujian yang berlangsung selama dua jam diakhiri dengan yudisium hasil ujian yang dibacakan oleh sekretaris dewan penguji, Dr. Ardianto, S.Pd., M.Pd sebagai Ketua Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam. Promovenda, Gina Nurvina Darise dinyatakan lulus ujian tesis dengan nilai pujian. (at)    

Asesmen Lapangan Akreditasi Prodi PAI

diposting pada tanggal 23 Sep 2018 05.01 oleh Pascasarjana IAIN MANADO

IAIN Manado - Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), masing-masing Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag (IAIN Tulungagung) dan Prof. Dr. Hasan Asari, M.A (UIN Sumatra Utara), Rabu (04/04/2018), melakukan asesmen lapangan dalam rangka penilaian akreditasi Program Studi (Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pascasarjana IAIN Manado. 

Kegiatan  asesmen lapangan dibuka oleh Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si. Dalam sambutan pada sesi pembukaan, Rukmina Gonibala menyampaikan bahwa IAIN Manado pada saat ini berfokus pada peningkatan standar akreditasi program studi. "Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya serius IAIN Manado untuk meningkatkan standar pengelolaan pendidikan yang  dilakukan pada semua program studi termasuk program studi yang ada di lingkungan  Pascasarjana", lanjutnya.


   

Forum Mahasiswa Pascasarjana Partsipasi Bangun Literasi Lingkungan

diposting pada tanggal 17 Sep 2018 08.55 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui17 Sep 2018 08.57 ]

Manado - Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado bersama dengan komponen masyarakat peduli lingkungan di Kota Manado ikut serta sukseskan  penyelenggaraan aksi World Cleanup Day (WCD) pada Sabtu (15/09/2018). Aksi WCD di Kota Manado yang turut didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Utara, Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado, dan Kodim 1309 Manado ini dilaksanakan di 10 (sepuluh) lokasi dan diikuti sebanyak 1650 orang yang berasal dari berbagai instansi/lembaga, perusahaan, organisasi, komunitas, dan kelompok masyarakat. Lokasi aksi WCD di Kota Manado, yaitu:
  • LOKASI 1 (Pantai Malalayang 2, Tugu Boboca-MUA), peserta: SMA Negeri 2 Manado, POSSI, HIMAFAR TRINITA, HIMAKESJA TRINITA, KPPA SMA Negeri 2 Manado, Tuturugafreedivers Manado, Dragonetdivers, Mapala Avestaria Fispol Unsrat, Walhi Sulut, PALAMIK UNSRAT, DIVEPACKER INDONESIA,  Mercure Tateli, PMI Manado, Institut Agama Kristen Negeri, dan Werewolf+.
  • LOKASI 2 (Malalayang 1 Timur Ling 1-Big Fish Bahu), peserta: KSE UNSRAT, CG GMS ProM, Sahabat Pelangi, PKKT BKM, 1000 Guru Manado, Trashbag Community, KAPS Manado, SMA Negeri 4 Manado, KPMIBT Manado, PMI Manado
  • LOKASI 3 (Muara Sungai Sario/Jembatan Kuning), peserta: HIMASUPER Unsrat, BEM FPIK Unsrat, Tridacna Diving Club Unsrat, MPA Zooxanthellae, Lembeh
    Bersih,
    DLH Propinsi Sulut, Mapala Tarsius, Humanity of Manado, HIMIKA Unsrat, dan PMI Manado
  • LOKASI 4 (Muara Sungai Jengki, Calaca-Sindulang 1), peserta: APMI Manado, BTFIB, KPAB Aligator, Lestari Alamku, MPA Artsas, IMKLI Manado, Manado Fishing Adventure, Masyarakat Sindulang, Politeknik Manado, Seasoldier_NS, PPAB Everest, KMPA Tansa, Komunitas Dinding Manado, LPM Inovasi Unsrat, Mahasiswa Teknik Lingkungan Unsrat, ENJ Sulut, Plastic Mvmt, Bayangkari Polda Sulut, Manadonesia Channel, GMPAB Pantera Pardus, Couchsurfing Manado, dan PMI Manado
  • LOKASI 5 (Karangria-Sindulang 2), peserta: LPAMU, Simpatisan Alam Indonesia, Salam Lepicea SMK Negeri 2 Manado, KPAB Garuda, SMK Negeri 2 Manado, Anti AntiSosial Club, KPAB Mata Angin, Mapala Delasalle, SPARTA Cereme, PABI ANANTARA, BKI FEB Unsrat, IMPWK FT-Unsrat, PC IMM Kota Manado
    Rumah SKM, KMN Kota Manado, KPA Rasamala, KPG, Pramuka IAIN Manado, KPAB Beringin, Triple C Manado, Outsiders & Ladyrose Manado, Safari Tour & Travel, KPAB MAGNOLIA ALBA, PMI Manado, SMK Kr. Solagratia, Mer 99, dan Gelang Rimba
  • LOKASI 6 (CABAL, Megamas, Zero Point, Marina Plaza), peserta: Indorunners, Pegadaian, GERKATIN, Komunitas Tuli Manado, Ikatan BI Sulut, KPK
    Torang Slankers Manado, HMI Cabang Manado, PMI Cabang Manado, FKPA, KWARCAB Pramuka Manado, dan Relawan Aqua
  • LOKASI 7 (GOD BLESS PARK), peserta: All Freelance/Individu non Komunitas, Perwakilan dari PMI Manado, FKPA, dan Laskar Bapontar
  • LOKASI 8 (Tateli), peserta: Kampus B Politeknik Manado
  • LOKASI 9 (Bunaken), peserta: Bastianos Resort
  • LOKASI 10 (MTs Nurut Taqwa Manado), peserta: seluruh siswa MTs Nurut Taqwa Manado
Wahyuningsih Sutrisno, Sekretaris Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) IAIN Manado, yang juga merupakan Leader WCD Regional Sulut, mengungkapkan bahwa a
genda aksi WCD ini selain dilaksanakan di Kota Manado juga diseleggarakan di 4 (empat) kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Utara yaitu Kota Bitung,  Kabupaten Minahasa,  Kabupaten Minahasa Utara, dan Kota Kotamobagu.
  Untuk Kota Bitung berlokasi di
Pantai Batu Putih, Pantai Tanjung Merah, Pantai Girian Bawah, Pantai depan PT. MNS, Pantai Candi, Pelabuhan Samudera Bitung, Ruko Pateten, Pantai Naemundung, Pantai Tandurusa, Pantai Makawidey, Pantai Lembeh Utar, Pantai Lembeh Selatan, Sungai Girian, Satu Titik Diving dari Lembeh Resort, Satu Titik Diving dari Bastianos Resort. Untuk Kabupaten Minahasa berlokasi di Hutan Lindung Gunung Mahawu dan Benteng Moraya. Untuk Kabupaten Minahasa Utara berlokasi di Pantai Firdaus Kema 2 sampai Pesisir Kema 3, Pesisir Pantai dekat desa Lihunu,  Likupang Timur, dan pinggir pantai bangka. Untuk Kota Kotamobagu berlokasi di Sungai Dayanan Gogagoman, Pasar Serasi Kotamobagu,  Terminal Serasi Kotamobgau,  dan Pasar Poyowa Besar.

Lanjut diungkapkan Wahyuningsih yang saat ini sedang merampungkan penelitian tesisnya bahwa kegiatan World Cleanup Day ini merupakan aksi peduli  lingkungan yang juga sekaligus merupakan upaya membangun literasi lingkungan dari seluruh lapisan masyarakat. "Program WCD ini juga dapat menjadi wahana menyatukan masyarakat dari berbagai kalangan, baik dari unsur pemerintah, unsur swasta, anak muda, pelajar, mahasiswa, organisasi, komunitas, maupun warga masyarakat untuk ikut bergotong royong membersihkan sampah", ungkapnya. Hal ini penting menurutnya, karena masalah sampah bukan hanya masalah pemerintah, tetapi masalah kita bersama.

Penyelengaraan aksi WCD ini diorganisasikan oleh Coreteam World Cleanup Day Regional Sulawesi Utara, yaitu:

  • Leader Regional Sulawesi Utara: Wahyuningsih Sutrisno
  • General Secretary: Muhammad Iqbal Suma
  • Partnership and finance: Grace tv Wakary,  Ardianus A.E Janis. 
  • IT and mapping: Rohit Mahatir Manese, Nova Yana apsari Salim.
  • Pr & Marketing: Julius Michael Mirah,  Widya Desfita,  Ahmad Luthfi Hardjodiwirjo, Bayu Laksmana.
  • Coordinator Volunteer: Getion Mamesag,  Rio Noval Puasa,  Julius Michael Mirah
  • Event management: Reinold Glory Masinambow,  Rendy Desriance Lasane,  Novita Intan Lengkoan
  • Logistik team: Ridwan Nur Sineke, Rahma lewa,  Syahida Lewa
  • Leader kota Manado: Rio Noval Puasa
  • Leader Kota Bitung: Andre Kevin Membri,  Tika Fitriyani Pellu
  • Leader Minahasa induk: Jovanka, Imam Alqurbani
  • Leader minut: Bella Wondal
  • Leader Kotamobagu: Harry Azwar Pasambunan
 

Era Disrupsi Mendorong Terjadinya Digitalisasi Sistem Pendidikan

diposting pada tanggal 28 Agu 2018 05.12 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui28 Agu 2018 06.00 ]

IAIN Manado
- Program Studi Manajemen Pendidikan Islam untuk Program Sarjana (S1) dan Program Magister (S2) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Selasa (28/08/2018), mengawali aktivitas kuliah Semester Ganjil Tahun Akademik 2018/2019 dengan kuliah tamu. Kegiatan kuliah tamu yang bertempat di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado ini merupakan inisiasi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang masing-masing diketuai oleh Feiby Islamil, M.Pd untuk jenjang Sarjana (S1) dan Dr. Ardianto, M.Pd untuk jenjang Magister (S2).

Hadir memberikan sambutan dalam pembukaan kuliah tamu adalah Wakil Dekan I (Bidang
Akademik dan Pengembangan Lembaga) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado, Drs. Muh. Syakur Rahman, M.Pd.I dan Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd.
Drs. Muh. Syakur Rahman, M.Pd.I yang hadir mewakili Plt. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado mengungkapkan bahwa kuliah tamu yang diselenggarakan atas kerja sama Program Studi Manajemen Pendidikan Islam jenjang S1 dan S2 sangat membantu fakultas dalam
upaya pengembangan kegiatan keilmuan bagi mahasiswa. “Kegiatan kuliah tamu seperti ini sangat dirindukan oleh FTIK sebagai fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di IAIN Manado”, tegasnya.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd, mengapresiasi langkah proaktif Program Studi Manajemen Pendidikan Islam dalam melakukan sinergi program akademik. Ia menyampaikan bahwa perkembangan dalam kehidupan tidak dapat dipungkiri apalagi bidang pendidikan sehingga yang terpenting ialah memahami bagaimana cara untuk mengantisipasi perkembangan itu agar sejalan dengan era yang ada. Oleh karena itu, Bolotio yang juga terdaftar sebagai anggota Perkumpulan Program Studi Pendidikan Islam (PPMPI) Indonesia ini berharap bahwa melalui kuliah tamu dengan narasumber yang ahli di bidang manajemen pendidikan Islam dapat memberikan wawasan baru terkait dengan pengembangan manajemen pendidikan Islam di era disrupsi dan revolusi industri.
   
Kuliah tamu yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, baik strata satu maupun strata dua ini menghadirkan dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Zainal Arifin, M.SI sebagai narasumber. Dalam pemaparan kuliahnya bertajuk “Manajemen Pendidi
kan Islam di Era Disrupsi dan Revolusi Industri 4.0”, Dr. Zainal yang juga Sekjen Perkumpulan Program Studi Pendidikan Islam (PPMPI) Indonesia ini megungkapkan bahwa era disrupsi dan revolusi industri 4.0 dapat menjungkirbalikkan keadaan yang berlaku dan berjalan hingga berdampak besar dalam keseluruhan sistem pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Hal ini merupakan peluang namun pada saat yang sama juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Islam. Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena disrupsi (disruption). Disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Keberadaan teknologi komputer dan komunikasi dapat dimanfaatkan dalam segala kehidupan manusia. Hal ini memberikan tantangan dan peluang berkembangnya inovasi dan kreativitas dalam proses belajar dan mengajar. Selain itu, akan memberikan dampak pembelajaran yang lebih terkonsentrasikan ke mahasiswa. Baik dosen maupun mahasiswa harus memiliki kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan sumber-sumber belajar.

Di akhir sesi kuliah tamu, Dr. Zainal yang dimoderatori oleh Abdul Muis Daeng Pawero, dosen pada Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam, menyatakan bahwa tantangan dan peluang di era disrupsi dan revolusi industri 4.0 pe
rlu dihadapi dengan kemampuan beradaptasi, memiliki kompetensi, dan dasar agama yang kuat.

Sebelum penutupan kuliahnya, Dr. Zainal yang juga berada di Manado dalam rangka kegiatan riset menyerahkan hadiah berupa buku hasil karyanya kepada dua orang mahasiswa. Pemberian hadiah berupa buku ini disambut sangat positif oleh mahasiswa dan menjadi sumber motivasi belajar mereka.

Dr. Ardianto, M.Pd dalam keterangannya mengungkapkan bahwa pelaksanaan kuliah tamu yang digagas secara bersama oleh Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Program Sarjana (S1) dan Program Magister (S2) IAIN Manado ini dilandasi oleh kesadaran bersinergi untuk memperolah dampak yang lebih luas. Lebih lanjut, Ia juga menjelaskan bahwa materi kuliah tamu yang dipaparkan oleh Dr. Zainal relevan dengan perkembangan yang ada saat ini.  Lebih lanjut diungkapkan bahwa perkembangan dalam teknologi digital dengan artificial intelligence (AI) yang mengubah data menjadi informasi telah membuat orang dengan mudah dan murah
memperolehnya. Perubahan ini berpengaruh pada tata kerja perguruan tinggi sebagai salah satu sumber kemudahan-kemudahan tersebut, termasuk perubahan dalam tata cara belajar dan mengajar.

Secara terpisah, Feiby Ismail, M.Pd, yang juga pengurus inti (bendahara) PPMPI menyatakan bahwa kehadiran Dr. Zainal Arifin, M.SI, yang adalah sekjen PPMPI, memberikan kuliah tamu di IAIN Manado ini sekaligus merupakan sebagai momentum untuk observasi atas kesiapan IAIN Manado khususunya Program Studi Manajemen Pendidikan Islam sebagai pelaksana dan tuan rumah penyelenggaraan agenda pertemuan tahunan PPMPI tahun 2019. Ia berharap dengan dukungan civitas akademika IAIN Manado, agenda kegiatan PPMPI di Manado tahun 2019 dapat terselenggara dengan sukses. (at)

Wawancara Calon Mahasiswa Program Magister Berjalan Lancar

diposting pada tanggal 10 Agu 2018 07.39 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado – Pelaksanaan ujian lisan/wawancara dalam rangka seleksi penerimaan mahasiswa baru Program Magister Program Pascasarjana IAIN Manado berjalan dengan lancar.

Wawancara yang berlangsung Selasa (07/08/2018) itu terbagi dalam tiga komponen materi, yaitu pertama, kebijakan makro dan mikro pengembangan institusi yang terdiri dari (1) wawasan tentang visi pengembangan pendidikan Islam dan (2) visibilitas pendanaan studi. Bertindak sebagai penguji untuk komponen ini adalah Direktur Program Pascasarjana, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd. Kedua,  pembidangan program studi dan rencana usul penelitian yang terdiri dari (1) isu-isu mutakhir dalam bidang program studi dan (2) pengembangan riset/rencana usul penelitian. Komponen ini diuji oleh masing-masing ketua program studi yaitu Dr. Drs. Naskur, M.HI (Kaprodi Hukum Keluarga dan Plt. Kaprodi Ekonomi Syariah) dan Dr. Ardianto, M.Pd (Kaprodi Pendidikan Agama Islam dan Plt. Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam). Dan, ketiga, motivasi studi dan orientasi pengembangan diri. Komponen ini diuji oleh Sulaiman Mappiasse, Ph.D (Dosen Program Pascasarjana) dan Dr. Musdalifah Dachrud, M.Si (Dosen Program Pascasarjana). 

Menanggapi hasil wawancara, Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd usai kegiatan wawancara mengungkapkan bahwa rata-rata calon mahasiswa telah mempersiapkan diri dengan baik. “Hal ini menunjukkan wujud
kesungguhan calon mahasiswa melamar menjadi mahasiswa peserta program magister pada Program Pascasarjana”, lanjut Bolotio. Ia juga menambahkan bahwa rata-rata mahasiswa telah mempersiapkan biaya perkuliahan sehingga kendala penyelesaian studi karena faktor finansial tampaknya tidak akan terjadi. 

Target yang ingin dicapai melalui kegiatan ujian lisan/wawancara dalam rangka seleksi penerimaan mahasiswa baru Program Magister ialah identifikasi dan pemetaan karakteristik potensi dan kemampuan awal yang dimiliki calon mahasiswa. Berdasarkan identifikasi dan pemetaan itu Program Pascasarjana IAIN Manado dapat menentukan skala prioritas pengembangan program akademik bagi mahasiswa baru. Identifikasi dan pemetaan karakteristik potensi dan kemampuan awal calon mahasiswa ini perlu dilakukan agar program-program pengembangan akademik yang dilakukan lebih terukur dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.

Kegiatan wawancara yang kegiatannya dipusatkan di gedung perkuliahan Program
Pascasarjana sangat antusias diikuti oleh para calon mahasiswa. Hal ini tampak dari kesetiaan mereka menunggu giliran wawancara. Para calon mahasiswa yang mengikuti wawancara itu sebelumnya telah mengikuti tes tulis.

Hasil wawancara akan diakumulasikan nilainya dengan hasil tes tulis untuk menjadi dasar pertimbangan kelulusan mahasiswa. (at)

Yusmarni, Menuntut Ilmu Tidak Berbatas Waktu

diposting pada tanggal 9 Agu 2018 09.59 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Menunut ilmu sepanjang hayat. Hal ini ditunjukkan oleh Yusmarni Kadengkang.
Dalam usianya yang senja, 68 tahun, mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidi
kan Islam Program Pascasarjana IAIN Manado ini tetap menunjukkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Yusmarni yang oleh teman-teman sekelasnya akrab menyapanya dengan sapaan mami ini secara eksplisit mengekspresikan pesan bahwa umur bukan halangan untuk menuntut ilmu.

Tekad dan kerja keras Yusmarni untuk meraih gelar magister dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam tampaknya mulai menunjukkan hasil. Hal ini tampak dalam keberhasilan  mempertahankan usul penelitian untuk karya tesisnya pada Kamis (09/08/2018) di hadapan Dewan Penguji Proposal Tesis, masing-masing Dr. Rivai Bolotio, M.Pd, Dr. Ardianto, M.Pd.,  Sulaiman Mappiasse, Ph.D, dan Dr. Adri Lundeto, M.Pd.I.

Meski di usia senja, Yusmarni yang sehari-harinya mengabdikan diri sebagai guru di SMK Kesehatan Kotamobagu ini dalam proses pembimbingan tetap mengikuti semua proses sesuai prosedur yang ada. Jiwa besar dan kesabaran mengikuti semua tahapan akademik yang ada layak menjadi panutan bagi mahasiswa. Yusmarni menjadi inspirasi nyata dan memberi pesan kuat pada generasi muda bahwa usia senja bukan penghalang menimba ilmu dan menuntut ilmu tidak berbatas waktu. (at) 

Direktur Pantau Pelaksanaan Ujian Seleksi Tertulis Penerimaan Mahasiswa

diposting pada tanggal 9 Agu 2018 08.31 oleh Ardianto Tola

IAIN Manado - Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan ujian seleksi tertulis Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pascasarjana IAIN Manado
Tahun Akademik 2018-2019 yang berlangsung Senin (06/08/2018), Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd melakukan visitasi langsung di ruang pelaksanaan ujian untuk memantau proses pelaksanaan ujian. Dalam kesempatan visitasi tersebut, Direktur yang turut didampingi oleh Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, Dr. Ardianto, M.Pd  kembali mengingatkan paserta ujian untuk mengerjakan tes secara sunggguh-sungguh. Ia juga berpesan agar para calon mahasiswa tidak perlu khawatir untuk tidak lulus ujian karena soal-soal yang diberikan relatif mudah dikerjakan. "Soal-soal yang mungkin sulit dikerjakan hanya soal bahasa Arab khususnya bagi para peserta yang berlatar belakang pendidikan umum", ungkapnya.

Pelaksanaan ujian yang diikuti 35 peserta dan dibagi dalam dua ruangan itu berjalan lancar. Adapun materi soal terdiri atas dua yaitu tes potensi akademik (TPA) dan Tes Kemampuan Bahasa. Seluruh peserta tampak sangat serius mengerjakan soal-soal yang ditanyakan. (at)

1-10 of 36