Galeri‎ > ‎Dokumentasi‎ > ‎

Laksanakan Kuliah Tamu, Program Pascasarjana Hadirkan Direktur PTKI

diposting pada tanggal 19 Apr 2019 07.19 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui19 Apr 2019 08.45 ]
IAIN Manado -  Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado pada Senin (15/04/2019) kembali menyelenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Arskal Salim GP, M.A, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag R.I.

Kuliah tamu yang bertempat di Aula Program Pascasarjana itu diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Pascasarjana. Juga turut hadir mengikuti kuliah tamu adalah pelaksana tugas Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, para pelaksana tugas Wakil Rektor, pelaksana tugas Direktur, pelaksana tugas Dekan, dosen dan tenaga kependidikan IAIN Manado.

Prof. Arskal dalam kuliah tamu bertajuk "Manajemen Capacity Building dalam Meningkatkan Mutu
Akademik dan Kelembagaan Pascasarjana di Perguruan Tinggi"  lebih banyak menyoroti tentang Pendidikan Tinggi Islam di Era Industry 4.0 dan Society 5.0. Mengutip berbagai sumber, Prof. Arskal yang meraih gelar doktor pada Melbourne University, Australia, mengemukakan bahwa karakterisitik perguruan tinggi di Era Industry 4.0 antara lain (1) perguruan tinggi bukan kumpulan sivitas akademika, tetapi partisipasi sivitas akademika dalam inovasi sosial, (2) di perguruan tinggi bukan alih pengetahuan, tetapi rekonstruksi pengetahuan dengan peserta didik, (3) perguruan tinggi bukan pengguna pengetahuan, tetapi pencipta pengetahuan (konsep, model, data, klasifikasi, purwarupa) dan pusat kekayaan intelektual, (4) perguruan tinggi adalah pengembangan dan produksi teknologi tepat guna untuk implementasi pengetahuan menjadi realitas, (5) perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan usaha/perintis (start-ups), (6) perguruan tinggi berorientasi pada pengembangan jejaring komunikasi untuk koordinasi subjek terhadap isu-isu strategis, (7) perguruan tinggi merupakan pusat pajangan kisah sukses untuk hasil inovasi atau praktik baru, dan (8) perguruan tinggi harus memiliki Kemandirian administrasi dan keuangan.

Terkait dengan perkembangan terkini (Society 5.0), Prof. Arskal mengemukakan bahwa hal ini dicirikan oleh kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas ditandai dengan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pemecahan masalah sosial. Dalam kaitan ini, Prof. Arskal yang juga merupakan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengingatkan agar Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) perlu mempersiapkan diri sehingga perguruan tinggi Islam  dapat survive dan dapat berkompetisi di Era Industry 4.0 dan Society 5.0.

Ia mengingkatkan bahwa khittah Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam adalah mengantarkan pada pencapaian- pencapaian tinggi di berbagai bidang dan landasan membangun peradaban maju dan unggul melalui (1) pengembangan keilmuan, sains, dan teknologi, (2) internalisasi moderatisme agama, (3)  meneguhkan ideologi keindonesiaan, dan  (4)  mentransformasi dan mendampingi masyarakat.

Merujuk pada pandangan Daniel Bell, Prof. Arskal mengemukakan 5 trend atau kecenderungan
Industri 4.0, yaitu (1) kecenderungan integrasi ekonomi. Pendidikan Tinggi Islam karenanya harus memiliki daya tawar secara ekonomi, (2) kecenderungan fragmentasi politik. Pada konteks ini, Pendidikan Tinggi Islam harus mengedukasi pada toleransi, (3) kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technology). Agar tetap relevan keberadaanya, Pendidikan Tinggi Islam harus terintegrasi dengan Teknologi Informasi (e-learning, mobile learning, online course), (4) kecenderungan interdependensi. Pendidikan Tinggi Islam harus berorientasi pada pendidikan interdisipliner (lintas disiplin ilmu), kolaborasi antarinstitusi dan antarnegara, dan (5) kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan penguatan nilai agama Islam dan pendidikan karakter.

Di bagian akhir kuliahnya, Prof, Arskal menegaskan bahwa menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, PTKI harus (1) menyesuaikan kebutuhan progam studinya dengan kebutuhan industri, (2) mengajarkan keterampilan (skill) yang diperlukan di Industry 4.0 dan Society 5.0, (3) mengajarkan budaya (culture) riset interdisipliner, (4) mengajarkan budaya (culture) inovasi, dan (5) mengajarkan budaya (culture) pelayanan (service) yang baik. (at) 
Comments