Galeri‎ > ‎Dokumentasi‎ > ‎

PASCASARJANA TELORKAN 34 LULUSAN

diposting pada tanggal 25 Feb 2018 05.42 oleh Pascasarjana IAIN MANADO   [ diperbarui25 Feb 2018 08.51 ]
IAIN Manado – Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado dari waktu ke waktu terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu unit penyelenggara pendidikan program strata dua (S-2) di IAIN Manado. Hal ini tampak dari keberhasilannya menelorkan 34 lulusan pada semester genap tahun akademik 2017-2018.

Lulusan yang berjumlah 34 itu sebelumnya telah disahkan melalui sidang yudisium pada Rabu (21/02/2018). Sidang yudisium yang bertempat di Ruang Aula Program Pascasarjana itu dipimpin Direktur Program Pasacasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai  Bolotio, M.Pd. “Sidang yudisium ini merupakan pengesahan lulusan sebelum dikukuhkan oleh Rektor melalui wisuda  yang akan dilaksanakan di tingkat institut”, beber Rivai Bolotio. Lanjut dikemukakan bahwa dengan keberhasilan menelorkan 34 lulusan ini, maka Program Pascasarjana IAIN Manado hingga saat ini telah berhasil meluluskan sebanyak 61 lulusan setelah sebelumnya, tahun 2016, telah menghasilkan sebanyak 27 lulusan.  

Jika pada tahun 2016 yang lalu baru meluluskan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, tahun 2018 ini Program Pasacasarjana telah
berhasil meluluskan mahasiswa pada 4 Program Studi yang ada, yaitu masing-masing Program Studi Pendidikan Agama Islam sebanyak 8 lulusan, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam sebanyak 7 lulusan, Program Studi Ekonomi Syariah sebanyak 4 lulusan, dan Program Studi Hukum Keluarga sebanyak 15 lulusan.   

Dalam sidang yudisum yang berlangsung 1 hari jelang pelaksanaan wisuda IAIN Manado tahun 2018 diikuti oleh seluruh mahasiswa yang telah menempuh ujian tesis/gelar magister. Dari 34 mahasiswa yang telah menempuh ujian tesis/gelar magister, seluruhnya dinyatakan lulus dan telah disahkan melalui Keputusan Direktur Program Pasacasarjana IAIN Manado Nomor 24 Tahun 2018 tentang Yudisium Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Manado Tahun Akademik 2017-2018.

Usai yudisum, 34 lulusan itu selanjutnya dikukuhkan pada Rapat Senat Terbuka. Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Strata Satu (S-1) Strata Dua (S-2) itu berlangsung pada Kamis (22/02/2018) di Hotel Sutan Raja, Kalawat, Minahasa Utara. Rapat dipimpin Ketua Senat yang sekaligus Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si.

Pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda itu dikukuhkan sebanyak 447 lulusan, terdiri atas 40 lulusan pada Fakultas Syariah, 317 lulusan pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, 16 lulusan pada Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, 40 lulusan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, dan sebanyak 34 lulusan pada Program Pascasarjana.

Dalam laporan akademik, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si selaku Rektor yang sekaligus Ketua Senat IAIN Manado mengungkapkan bahwa kegiatan Upacara Wisuda yang dilaksanakan hari ini merupakan  Upacara Wisuda Angkatan ke-3 setelah transformasi STAIN Manado menjadi IAIN Manado. Lanjut dikemukakan bahwa civitas akademika IAIN Manado layak bersyukur bahwa jumlah wisudawan dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. "Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya masyarakat muslim Sulawesi Utara secara perlahan memiliki kepercayaan yang tinggi untuk memilih IAIN Manado sebagai pilihan tempat studi bagi anak-anak, generasi muda, generasi harapan bangsa dan agama", ungkapnya.

Dalam laporan akademiknya, Rukmina Gonibala yang merupakan rektor pertama IAIN Manado, juga melaporkan bahwa dengan bertambahnya lulusan semester genap tahun akademik 2017/2018 ini, maka IAIN Manado sampai dengan saat ini (sejak berdiri secara otonom pada tahun 1997 dengan status kelembagaan Sekolah Tinggi hingga hari ini telah bertransformasi menjadi IAIN) telah meluluskan sebanyak 2176 orang. Para lulusan tersebut telah mengabdi dan berkiprah dalam berbagai bidang, baik di sektor pemerintah, maupun sektor swasta di berbagai daerah di Indonesia.

Rukmina Gonibala yang merupakan lulusan doktor sosiologi Universitas Indonesia dalam laporan akademiknya juga mengungkapkan bahwa dalam pengembangannya di masa-masa mendatang, IAIN Manado akan terus diorientasikan untuk dapat dirasakan kemanfaatannya bagi semua orang dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan bangsa. Oleh karena itu, lanjut dikemukakannya bahwa IAIN Manado telah menetapkan visinya sebagai kampus Multikultural-Transdisipliner dan berkomitmen untuk melahirkan generasi ulurrahmah, melahirkan generasi yang memiliki akhlak cinta dan kasih. Untuk cita-cita mulia ini, dilaporkan bahwa IAIN Manado saat ini sedang melaksanakan program character building melalui program Ma’had Kesantrian di mana seluruh mahasiswa baru wajib belajar (nyantri) di Ma’had dan mengikuti seluruh program yang disusun sesuai kurikulum pembelajaran di Ma’had (asrama). "Melalui program kesantrian dan pembelajaran yang berbasis Multikultural-Transdisipliner tersebut diharapkan akan tercipta karakter lulusan yang ulurrahmah", tegas Rukmina.

Wisuda yang turut dihadiri oleh para pejabat sipil, TNI, dan Polri itu juga diisi kegiatan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Delmus Puneri Salim, M.A., Ph.D. Dalam orasi ilmiahnya, Delmus yang meraih gelar Ph.D-nya pada Sydney University Australia itu membawakan orasi ilmiah bertajuk "Prinsip dan Nilai-nilai Universal Pendidikan Islam dalam Perubahan Global". Menurut Delmus, pemahaman yang sempit terhadap konsepsi pendidikan Islam selama ini memunculkan tantangan serius terhadap pendidikan Islam itu sendiri. Pertama, kepercayaan bahwa pendidikan islam itu bersumber dari ilmu pengetahuan masa lalu. Kedua, metode hafalan yang dominan. Ketiga, persiapan pengajaran atau pembelajaran yang oleh tenaga pendidik yang singkat. Dan, keempat, hukuman (sanksi) terhadap mahasiswa.

Untuk menjawab berbagai tantangan terhadap pendidikan Islam, Delmus dalam orasi ilmiahnya menawarkan solusi yang lebih substantif. Pertama, ilmu dan pengetahuan harus dipahami sebagai penolong jiwa, dan bukan sebagai beban. Kedua, ilmu pengetahuan juga harus dipandang sebagai sumber kebahagiaan. Ketiga, ilmu dan pengetahuan sebagai proses belajar terus menerus. Dan, keempat, ilmu dan pengetahuan pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat banyak. Oleh karena itu, Delmus menegaskan bahwa civitas akademika perguruan tinggi Islam yang berinteraksi dengan masyarakat harus memiliki nilai-nilai fundamental Islam seperti jujur, hidup sederhana, dan memiliki spiritual tinggi. (at)
Comments