Galeri‎ > ‎Dokumentasi‎ > ‎

Prof. Azyumardi: Sulawesi Bagian Tak Terpisahkan dari Islamisasi di Nusantara

diposting pada tanggal 28 Des 2018 06.55 oleh Ardianto Tola   [ diperbarui28 Des 2018 07.09 ]
IAIN Manado - Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Institut Aga
ma Islam Negeri (IAIN) Manado bekerja sama dengan Program Pascasarjana sukses selenggarakan Seminar Nasional bertajuk "Sejarah Islam Sulawesi dalam Bingkai Islam Indonesia dan Global" pada Senin (24/12/2018). Narasumber yang dihadirkan dalam seminar nasional yang bertempat di Aula Program Pascasarjana IAIN Manado itu ialah pakar sejarah Islam dan cendekiawan muslim Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE.

Seminar Nasional yang diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa Program Sarjana dan Program Pascasarjana itu dibuka secara resmi oleh Dekan FUAD IAIN Manado, Dr. Salma, M.HI. Dalam sambutannya, Salma menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE., yang berkenan hadir memenuhi undangan panitia pelaksana. Ia juga berharap agar kegiatan seminar dengan narasumber dengan reputasi kepakaran yang tidak saja dikenal di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat regional dan internasional ini diikuti secara aktif oleh peserta.

Hal yang sama juga diungkap oleh Ketua Panitia Pelaksana, Delmus Puneri Salim, M.A., M.Res.,
Ph.D. Dalam laporannya, Salim menjelaskan latar belakang pemilihan narasumber Seminar Nasional sekelas Prof. Azyumardi. "Beliau adalah tokoh intelektual muslim yang concern pada kajian history of Islam, karena itu FUAD yang salah satu program studinya ialah Sejarah Peradaban Islam sangat penting memperoleh wawasan sejarah Islam khususnya sejarah Islam Sulawesi dalam konteks Islam Indonesia dan global", ungkap Salim. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Prof. Azyumardi yang reputasi keilmuannya sangat tinggi itu diharapkan dapat memberi penguatan akreditasi program studi khususnya  Program Studi Sejarah Peradaban Islam dan program studi yang ada di Program Pascasarjana.

Di awal pemaparan materinya, Prof. Azyumardi yang merupakan penerima gelar kehormatan "Commander of the Order of the British Empire" (CBE) dari Ratu Inggris Elizabeth II itu mengungkapkan bahwa saat ini kian  banyak  kalangan  yang  berusaha  memahami  Islam  di  Asia  Tenggara
atau sering disebut sebagai 'Islam Indonesia'. Alasan Islam Indonesia dipilih karena dalam  pengejawantahan  kehidupan sosial budaya tradisi Islam Indonesia  memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. "Kaum Muslimin Indonesia memang memiliki sistem dan tradisi sosial budaya yang khas dan distingtif jika dibandingkan dengan umat Islam di tempat-tempat lain. Karena itulah Islam Indonesia memiliki wilayah budaya Islamnya sendiri dari delapan Islamic cultural spheres yang saya teorikan", lanjutnya.

Menurutnya, Islam Asia Tenggara mengacu pada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim  (nusantara)  yang  mencakup  tidak  hanya  kawasan  yang  sekarang  menjadi negara  Indonesia, tetapi juga  wilayah Muslim Malaysia, Thailand  Selatan  (Patani), Singapura,  Filipina  Selatan  (Moro),  d
an  juga  Champa  (Kampuchea).  Islam  Asia Tenggara (Southeast Asian Islam) sering digunakan secara bergantian dengan 'Islam Melayu-Indonesia' (Malay-Indonesian Islam). Peradaban  Islam Asia Tenggara pada saat yang sama menampilkan ciri-ciri dan karakter yang distingtif dan khas yang berbeda dengan peradaban Islam di wilayah-wilayah lainnya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengemukakan bahwa memahami Islam Indonesia dan Islam Asia Tenggara sangat penting dalam memahami Islam dan Muslim secara komprehensif. Menurutnya, kedudukan kawasan ini yang secara geografis terletak pada 'pinggiran' (perifer) dunia Muslim, yang melahirkan anggapan bahwa Islam Indonesia dianggap bukan “Islam yang sebenarnya”, bukan Islam sejati, bukan puritan dan murni adalah persepsi yang keliru, dan persepsi ini telah dikoreksi belakangan ini.  

Bahwa ada pengaruh budaya lokal dalam tradisi Islam di Nusantara dan karenanya menjadi pembeda dengan tradisi Islam di Timur Tengah adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, akan tetapi untuk menyebut tradisi Islam di Nusantara tidak mempunyai kaitan Islam di Timur Tengah jelas merupakan kekeliruan amat fatal. Begitu juga dengan anggapan hubungan Islam di Nusantara dengan Timur Tengah lebih bersifat politis ketimbang keagamaan. Islam di Nusantara telah berhubungan dengan Islam global dan jaringan 'ulama' sejak abad ke-16 terutama dengan Mekah dan Madinah, dan pada abad ke-20 dengan Kairo dan di negara lainnya.

Prof. Azyumardi menyebut bahwa abad ke-17 dan ke-18 merupakan salah satu masa yang paling penting dalam sejarah sosial intelektual kaum
muslim.  Sumber dinamika Islam dalam abad ke-17 dan ke-18 adalah jaringan ulama, yang terutama terpusat di Mekah dan Madinah. Melalui jaringan ulama inilah banyak gagasan pembaharuan Islam ditransmisikan dari pusat- pusat jaringan ke berbagai bagian dunia muslim. Memahami proses-proses transmisi gagasan pembaharuan itu menjadi semakin  penting dalam hubungannya dengan perjalanan Islam di Nusantara.

Setidaknya sejak abad ke-17 hubungan di antara kedua wilayah Muslim ini umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan, meski juga terdapat hubungan politik antara beberapa kerajaan Islam Nusantara dengan dinasti Utsmani. Hubungan antara kaum Muslimin di kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. Para pendatang Muslim dari Arab, Persia, dan anak Benua India yang mendatangi kepulauan Nusantara tidak hanya  berdagang, tetapi dalam batas tertentu juga menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Jaringan ulama (Ulama Networks) yang berpusat di Mekah dan Madinah memperoleh momentum penting dan semakin maju sesungguhnya sudah mulai sejak abad ke-15. Pada periode inilah banyak penuntut ilmu yang terdiri dari ulama penting yang datang dari berbagai penjuru dunia muslim (beberapa dari mereka tinggal di Tanah Suci). Jaringan yang saling timbal-balik diciptakan melalui relasi guru-murid, guru-guru, murid-murid, isnad dalam pengetahuan agama, dan silsilah tarekat.

Namun, inti dari jaringan ulama yang terpusat di Mekah dan Madinah sejak abad ke-17. Ini mendorong munculnya komunitas yang oleh sumber-sumber Arab disebut Ashhab Al-Jawiyyinn di Haramayn. Murid-murid Jawi di Haramayn merupakan inti utama tradisi intelektual dan keilmuan Islam di antara kaum Muslimin Melayu Indonesia. Setelah menuntut ilmu di Timur Tengah, khususnya di Mekah dan Madinah, sebagian mereka kembali ke Nusantara. Di sinilah mereka menjadi transmitter utama tradisi intelektual-keagamaan dalam tradisi Islam dari pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah ke Nusantara.

Terkait dengan sejarah Islam di Sulawesi, Prof. Azyumardi menyebut bahwa Sulawesi adalah bagian tak terpisahkan dari proses islamisasi di Nusantara. Ada tiga Datuk (Ri Tiro, Ri Bandang, Patimang) yang melakukan perjalanan ke Lombok dan Sulawesi Selatan; dan Dato Karoma ke Palu (Sulawesi Tengah). Mereka ini memainkan peran penting dalam islamisasi di Sulawesi. Karya-karya yang ditulis di Aceh dan tempat lain dari abad ke-16 dan seterusnya dapat ditemukan di Buton dan Sulu. Karena itu, ada kemungkinan bahwa Sulawesi Utara juga merupakan bagian dari perjalanan Islam di daerah tersebut.

Di akhir materinya, Prof. Azyumardi mengemukakan bahwa warisan terbaik dari jaringan ulama (Ulama Networks) ialah tradisi Islam wasatiyyah, Islam moderat dan akomodatif. Studi global tentang Islam harus mencakup Islam Asia Tenggara dan hal ini dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang Islam dan Dunia Muslim. (at)

Comments