Jangan Buat Nomenklatur “Keranjang Sampah”

Jakarta (Pendis) – Publik sudah mengerti bahwa prioritas pada pemerintah kali ini adalah infrastruktur.APBN harus diwujudkan dalam bentuk fisik, untuk belanja modal sehingga bisa kelihatan.

“Setiap pemimpin pasti ingin dimasa kepemimpinannya ada sesuatu hal yang jembleger, strategis dan terwujud. Oleh karena itu, agar Pendis mempunyai program yang monumental maka sudah tidak jamannya lagi membikin nomenklatur program dan kegiatan yang tidak aplikatif dan cenderung menjadi program keranjang sampah,” tegas Sekretaris Ditjen Pendis, Isom Yusqi.

“Nomenklatur Pendidikan Agama Islam Yang Bermutu misalnya, akan menimbulkan banyak makna dan penafsiran. Ini akan jadi sasaran pemeriksaan. Penamaan program dan kegiatan seharusnya langsung dikuantifikasi, misalnya Peningkatan Baca Tulis Al Qur`an, 10-ribu anak. Jadi dalam nomenklatur harus terukur, jelas, tepat sasaran, obyeknya bisa dijangkau, dan locusnya jelas,” terang Isom di hadapan pegawai Pendis dalam Penyusunan Program Kerja Anggaran dan Kegiatan Bagian Umum di Bekasi, Rabu (11/05/16).

Menanggapi eksistensi madrasah yang ternyata kurang dalam kuantitasnya, Isom kembali menegaskan bahwa ke depan, penambahan jumlah madrasah harus ditingkatkan serta pembenahan pengelolaan madrasah. Ini juga akibat dari perencanaan program yang kurang akurat.

“Jumlah madrasah di dekat Ibu Kota, Kab. Bogor misalnya, sangat sedikit. MTsN cuman ada 4 dan itupun tanahnya milik Pemda atau tanah wakaf. Aliyah ada 3. Di Kota Bogor, MTsN cuman 1, Aliyah cuman 2, MIN 1. Oleh karana itu merencanakan harus dengan data yg valid,” cetus Isom yang beberapa hari yang lalu monitoring Ujian Nasional MTs di daerah Bogor.

Oleh karena itu, lanjut Isom dalam pembuatan program maupun kegiatan jangan muluk-muluk. Benahi dulu yang ada serta analisa-lah program yang dimaui oleh masyarakat, bukan program atas kemauan kita.

“Membuat program diversifikasi madrasah dan pembuatan madrasah unggulan adalah penting namun penguatan pengelolaan exsisting madrasah dan penambahan madrasah biasa jauh lebih diperlukan,” ungkap Pak Ses.

(@viva_tnu/dod)

Leave a Reply