Menjadikan Perguruan Tinggi Islam Unggul Dan Menang Bersaing

 Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Pendahuluan

Sebagai buah dari dinamika dan kemajuan yang berhasil diraih pada akhir-akhir ini, PTKIN sudah waktunya mulai berani bersaing, juga pada tingkat global. Sekarang ini keberadaan perguruan tinggi Islam sudah mulai diperhitungkan. Mereka sudah tidak lagi sibuk berjuang memperkenalkan diri agar diakui dan dianggap perlu. Bahkan, mereka yang sudah berbentuk universitas, juga telah memiliki konsep bangunan keilmuan yang sedemikian jelas, dan berhasil dipahami oleh kalangan luas. Atas dasar konsep keilmuannnya itu, mereka dipandang harus ada dan bukan sekedar diada-adakan.

Sejak belasan tahun terakhir, PTKIN pada umumnya mengalami perkembangan yang amat cepat, baik dari aspek konsep keilmuannya, kelembagaannya, ketenagaan, fasilitas pendidikan, jumlah peminat masuk, hingga hasil karya akademiknya. Dilihat dari aspek kelembagaan misalnya, beberapa perguruan tinggi Islam pada awal tahun 2000-an, berhasil berubah dari institut dan sekolah tinggi menjadi universitas. Selain itu, tidak sedikit para dosennya meraih gelar Doktor, baik dari dalam negeri dan bahkan dari luar negeri. Fasilitas kampus, baik gedung, laboratorium, perpustakaan, perkantoran dan lain-lain semakin tercukupi. Demikian pula, karya-karya akademik semakin banyak dihasilkan dan bahkan menjadi rujukan banyak orang.

Bersamaan dengan upaya melakukan perubahan kelembagaannya, di kalangan perguruan tinggi Islam muncul konsep baru, yaitu apa yang dipopulerkan dengan sebutan integrasi dan interkoneksi antara Islam dan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Pada masa sebelumnya, perguruan tinggi Islam pada umumnya sebatas banyak berbicara tentang agama. Namun setelah berubah menjadi UIN, selain berbicara tentang agama, mereka berwacana tentang sains dan juga teknologi. Hal itu menjadikan seolah-olah perguruan tinggi Islam keluar dari sarangnya, berhasil masuk pada dunia nyata yang lebih luas.

Selanjutnya, setelah perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan berhasil, maka pada saat sekarang ini, di antara perguruan tinggi keagamaan sudah mulai berbicara tentang persaingan dan berusaha meraih kemenangan. Tulisan berikut adalah pandangan sederhana tentang beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh perguruan tinggi agama Islam negeri untuk memperkokoh dirinya sebagai upaya meraih keunggulan dan menang dalam berkompetisi di masa mendatang.

Konsep Ideal Perguruan Tinggi Islam

Setiap ditanya tentang bentuk kelembagaan perguruan tinggi Islam, saya selalu mengatakan bahwa bentuk ideal itu adalah universitas. Lewat perjuangan yang amat keras, sekitar 10 tahun yang lalu, berhasil diubah 1 STAIN dan 5 IAIN menjadi UIN, dan baru saja menyusul 4 lainya, yaitu UIN Medan, UIN Palembang, UIN Semarang, dan UIN Surabaya. Selain itu juga perlu disyukuri, bahwa beberapa STAIN telah berhasil berubah menjadi IAIN. Menurut informasi yang saya dapatkan, perguruan tinggi Islam negeri yang berbentuk STAIN tinggal berjumlah 19 buah. Tentu pada suatu saat, baik STAIN dan IAIN, berharap, agar berubah semua menjadi UIN.

Selama ini, saya bersemangat dan bahkan mengajak agar semua perguruan tinggi Islam negeri diperjuangkan untuk diubah menjadi bentuk universitas dengan berbagai alasan, yaitu misalnya (1) ajaran Islam adalah bersifat universal, sehingga bentuk universitas sebenarnya lebih tepat. (2) bentuk universitas, tidak sebagaimana institut atau sekolah tinggi, akan berpeluang mengembangkan berbagai jenis ilmu pengetahuan hingga tidak terbatas, (3) memberikan kesan bahwa Islam tidak sebatas sebagai ajaran yang hanya berupa petunjuk atau pedoman ritual sebagaimana yang dikesankan oleh banyak orang selama ini. dan (4) peluang untuk mengubah kelembagaan, sekalipun tidak mudah dilakukan, tetapi masih memungkinkan.

Berbagai perubahan, tidak terkecuali perubahan kelembagaan dari STAIN atau IAIN menjadi UIN, selalu mendatangkan pertanyaan dari bebagai kalangan. Hal itu dengan mudah bisa dimengerti oleh karena institusi itu adalah milik publik dan bahkan pemerintah. Oleh karena itu, siapa saja yang sedang dan akan melakukan perubahan dituntut untuk menyiapkan reasoningnya yang bisa diterima oleh semua pihak. Ketika merancang perubahan kelembagaan dari STAIN menjadi UIN, saya pada setiap saat menghadapi berbagai pertanyaan dimaskud. Misalnya, apakah jika STAIN berubah menjadi UIN, ilmu agama yang selama ini dikembangkan tidak menjadi dangkal, apakah jurusan agama tidak mati, apakah para dosen agama tidak kehilangan perannya, dan seterusnya.

Berbagai pertanyaan tersebut harus dijawab secara tuntas. Terkait kekhawatiran bahwa perubahan kelembagaan tersebut akan menyebabkan pendangkalan ilmu agama, saya terangkan dengan menggunakan peraga berupa sebatang pohon dan akhirnya peraga itu sekarang dikenal dengan sebutan pohon ilmu. Penjelasan itu saya mulai dari mengajak agar melihat beberapa tokoh Islam, misalnya Dr. Sahirul Alim, Prof. Tholkhah Mansyur, KH. Abdurrahman Wahid, Dr. Mohammad Nijad, Dr. Jalaluddin rahmat, Prof. Amien Rais, Prof,. Syafii Maarif, Prof. Azyumardi Azra, dan seterusnya. Mereka itu, menguasai bahasa Arab dan Inggris dan memiliki etos serta integritas keilmuan yang tinggi, sehingga mampu memahami sumber ajaran islam, yaitu al Qur’an dan Hadits Nabi. Namun masing-masing mereka memiliki disiplin ilmu modern yang berbeda-beda. Misalnya, Dr. Syahirul Alim ahli fisika, Dr. Mohammd Nijad ahli teknil sipil, Prof. Syafi’i Maarif ahli filsafat dan sejarah, dan juga seterusnya yang lain.

Para ilmuwan dan sekaligus tokoh tersebut, pada umumnya adalah lulusan universitas tetapi juga belajar secara mandiri atau melalui guru/ulama/kyai di pesantren. Mendasarkan pada penglihatan itu maka selain mengusulkan agar STAIN berubah menjadi UIN, juga menyusun format baru tentang pendidikan Islam agar menjadi lebih utuh, yaitu dilakukan dengan cara mensintesakan antara bentuk universitas dengan ma’had al aly. Dua kultur yang berbeda, yaitu kultur perguruan tinggi dan kultur pesantren berusaha disatukan. Sudah barang tentu, pekerjaan menyatukan dua hal yang berbeda tersebut tidak mudah. Akan tetapi, apapun beratnya beban itu asalkankan dilakukan dengan sunguh-sungguh dan berani menangung segala resikonya, insya Allah akan berhasil. Selain itu, juga dikembangkan pengajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara intensif. Seluruh mahasiswa tanpa membedakan fakultas dan jurusannya, diwajibkan belajar Bahasa Al Qur’an tersebut pada setiap hari, dari jam 14.00 hingga jam 20.00 selama satu tahun. .

Melalui penjelasan terhadap konsep tersebut, akhirnya kekhawatiran dari berbagai kalangan menjadi hilang dengan sendirinya. Sekarang, setelah sekian lama perubahan itu terjadi, umpama saja kemudian ditawarkan, agar UIN berubah kembali pada bentuk semula, yaitu menjadi STAIN, jelas tidak akan ada yang mendukung. Maka, itulah sebabnya, saya berani mengatakan bahwa bentuk ideal perguruan tinggi Islam adalah universitas. Melalui bentuk universitas, maka berbagai bidang ilmu bisa dikaji secara mendalam dengan mendasarkan pada sumber ayat-ayat qawliyah, yaitu al Qur’an dan hadits Nabi, dan sekaligus ayat-ayat kawniyah, yaitu hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis. Sebagai hasilnya, perguruan tinggi Islam tidak saja mengkaji ilmu syari’ah, ushuluddin, dakwah, adab, dan tarbiyah, tetapi juga mengkaji sains dan teknologi yang juga dipahami sebagai implementasi dari perintah al Qur’an dan Hadits Nabi.

Menempatkan PTKI Sebagai Wahana Perjuangan

Pada diri seseorang, kelompok atau komunitas terdapat kekuatan yang luar biasa untuk mengembangkan dan atau melakukan perubahan sesuatu. Kekuatan itu adalah semangat berjuang dan sekaligus berkorban. Sementara orang berpandangan bahwa seseorang atau sekelompok orang mau bergerak jika terdapat sesuatu yang diperoleh, yaitu uang, harta, jabatan, atau lainnya yang bersifat material. Memang benar, kekuatan untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat kebendaan mampu mendorong seseorang untuk bergerak atau berbuat, tetapi kekuatan itu masih ada yang mengalahkan, yaitu jiwa perjuangan dan pengorbanan atas panggilan keyakinan agamanya.

Jumlah lembaga pendidikan Islam di negeri ini adalah sedemikian banyak, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Lembaga pendidikan dimaksud mulai dari berdiri, tumbuh, dan berkembang, adalah didorong oleh jiwa perjuangan itu. Keberadaan pesantren yang berjumlah sekitar 28.000 adalah sebagai buah jiwa perjuangan dari para tokoh atau pemimpin agama di tempatnya masing-masing.

Demikian pula keberadaan PTKIN di berbagai daerah, mulai dari Banda Aceh sampai di Papua, hingga berjumlah 55 buah dan lebih dari 600 lainnya yang berstatus swasta, adalah tidak berbeda dengan pesantren atau jenis lembaga pendidikan lainnya, mereka tumbuh dan berkembang dari semangat perjuangan itu. Oleh karena itu sekalipun PTKIN berstatus negeri, pada umumnya, atau semuanya tumbuh dari masyarakat setempat. Pertumbuhan lembaga pendidikan Islam bukan atas inisiatif pemerintah pusat dan bahkan juga bukan selalu dari pemerintah daerah, tetapi adalah berasal dari semangat juang dan pengorbanan para tokohnya.

Bermula dari semangat berjuang itulah maka berbagai fasilitas perguruan tinggi berbasis agama hingga di daerah-daerah, banyak yang berasal dari sumbangan masyarakat. Didorong oleh semangat untuk mengembangkan agamanya, seseorang mewaqafkan tanahnya, tenaganya, dan bahkan juga uangnya demi kemajuan lembaga pendidikan tinggi Islam adalah merupakan hal biasa. Potensi dan kekuatan dahsyat itu seringkali tidak diperhitungkan dan apalagi dimobilisasi hingga maksimal. Umpama saja pemerintah memahami dengan baik kekuatan itu, maka mengembangkan lembaga pendidikan tidak terlalu sulit. Pemerintah cukup memberi guidance, kontrol, dan penghargaan secukupnya.

Sayangnya, semangat berjuang dan berkorban itu kadang menjadi melemah dan bahkan mati sebagai akibat birokrasi pemerintah sendiri yang terlalu kaku. Tuntutan yang bersifat birokratis dan berbelit-belit menjadikan semangat yang sesungguhnya sangat mahal harganya itu hilang. Semangat itu tergantikan oleh jiwa dan praktek transaksional, yaitu seseorang mau bekerja atau berbuat sesuatu hanya untuk memperoleh upah, gaji, atau honorarium. Semangat transaksional itulah, yang kemudian tidak jarang menjadikan jiwa berjuang dan berkorban itu redup dan bahkan mati.

Fenomena perubahan yang sedemikian cepat dialami oleh PTKIN pada umumnya seringkali munculkan pertanyaan yang menggambarkan kekaguman. Yaitu mengapa perubahan dari STAIN dan IAIN menjadi UIN ternyata lebih cepat dibanding perubahan yang dialami oleh perguruan tinggi jenis lainnya. Pertanyaan itu sebenarnya bisa dijawab bahwa semangat berjuang dan berkorban menjadi kekuatan yang luar biasa besarnya untuk memajukan apa saja, tidak terkecuali adalah lembaga pendidikan tinggi Islam. Semangat dan jiwa berkorban itu seharusnya dikelola sebaik-baiknya.

Semangat juang dan berkorban adalah merupakan kekuatan dahsyat untuk mengembangkan PTAIN di mana-mana. Kekuatan itu seharusnya dimobilisasi hingga maksimal. Sebagai institusi pemerintah atau berstatus negeri, PTAIN dituntut agar mengikuti prinsip-prinsip manajemen modern, yaitu bersifat profesonal, terbuka, dan terukur. Tututan itu kiranya tidak perlu dijadikan penghalang untuk memobilisasik jiwa perjuangan dan pengorbanan itu.

Manakala jiwa perjuangan dan pengorbanan itu behasil dihidupkan dan dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya, maka PTKIN akan mengalami perkembangan yang semakin cepat. Orang-orang yang terlibat dalam pengembangan perguruan tinggi Islam tidak akan berhenti bekerja hanya oleh karena menghadapi keterbatasan atau kekurangan, baik kekurangan itu berupa fasilitas, anggaran, ataupun lainnya. Beberapa pimpinan perguruan tinggi Islam negeri hingga terlibat ranah hukum, bisa jadi tidak selalu didorong oleh niat jahat, mengejar keuntungan diri sendiri, tetapi justru sebaliknya, ingin memperjuangkan lembaga yang dipimpinnya agar segera maju dan tidak jauh tertinggal.

Menjadi Besar Harus Bersama Dan Bersaing Sehat

Kebersamaan telah diakui oleh siapapun akan menghasilkan kekuatan sebagai modal utama untuk memenangkan persaingan pada tingkat apapun dan dengan siapapun. Akan tetapi, membangun kebersamaan itu ternyata bukan perkara mudah. Orang lebih mudah berpisah dan bercera berai dari pada berkumpul, bersama-sama, dan bahkan bersatu. Ayat al Qur’an dan Hadits Nabi sudah tidak kurang-kurangnya memberikan tuntunan agar umat Islam bersatu, saling menghargai, dan bertolong menolong. Akan tetapi, ternyata tuntunan dan bahkan perintah itu justru seringkali diabaikan.

Persoalan tersebut rupanya bersifat umum, yaitu dialami oleh berbagai perguruan tinggi Islam di mana-mana. Sebab terjadinya pragmentasi warga kampus itu bermacam-macam, misalnya karena perbedaan organisasi sosial keagamaan, berbeda suku atau asal muasal tempat kelahiran, perbedaan latar belakang pendidikan, dan lain-lain. Sebenarnya, perbedaan itu tidak mengapa, asalkan tidak menganggu semangat kebersamaan itu.

Rupanya, di mana-mana perbedaan itu mengeras, terutama ketika terjadi kompetisi antar kelompok kepentingan. Kampus seharusnya diwarnai oleh suasana akademik, dan bukan politik atau kepentingan sederhana. Boleh saja, para dosen membangun organisasi atas dasar kesamaan, tetapi bukan kesamaan yang bersifat idiologis, melainkan mendasarkan pada kesamaan bidang keilmuannya. Misalnya, dibuat asosiasi sarjana biologi, asosiasi dosen kimia, matematika, psikologi, dan seterusnya. Asosiasi itu diperlukan sebagai wadah untuk membangun komunikasi atau silaturrahmi di antara para ilmuwan sejenis agar terjadi saling memperkukuh dan mengembangkan keilmuan.

Selanjutnyha, sebagai bangsa yang majemuk, perguruan tinggi berbasis agama tidak saja PTKIN, tetapi juga terdapat perguruan tinggi agama lainnya. Sepengetahuan saya ada tiga Perguruan Tinggi Agama Hindu negeri, Dua Perguruan Tinggi Agama Budha Negeri, dan delapan Perguruan Tinggi Agama Kristen Negeri. Selain yang berstatus negeri, masing-masing agama memiliki perguruan tinggi swasta, dan bahkan perguruan tinggi Agama Kristen Katholik, semuanya berstatus swasta.

Sebagai negara yang menganut falsafah Pancasila, keberadaan perguruan tinggi berbasis agama posisinya sangat strategis. Melalui perguruan tinggi berbasis agama, maka akan lahir sarjana yang menguasai agamanya secara mendalam dan sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasiskan nilai-nilai agama. Namun siapapun mengetahui, perguruan tinggi berbasis agama dimaksud, baru pada akhir-akhir ini mendapatkan perhatian pemerintah, sehingga perkembangannya agar teringgal dibanding dengan perguruan tinggi umum. Ke depan, perguruan tinggi berbasis agama harus bangkit dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi pada umumnya.

Peran perguruan tinggi berbasis agama dalam kaitan upaya membangun kebersamaan, persatuan, dan keutuhan bangsa adalah sangat vital. Manakala para pimpinan, dosen, dan bahkan mahasiswa perguruan tinggi berbasis agama selalu menjalin komunikasi, maka akan sekaligus menjadi contoh atau tauladan terhadap pentingnya persatuan sebagaimana yang dimaksudkan itu. Komunikasi dan bahkan kerjasama itu sebenarnya, pada batas-batas tertentu telah dilakukan. Suatu contoh, proses sertifikasi dosen untuk Perguruan Tinggi Agama Hindu dan Budha seluruh Indonesia diserahkan ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saling mengenal antar perguruan tinggi yang berbasis agama akan melahirkan saling menghargai dan bekerjasama. Dengan cara demikian itu, maka diharapkan tidak akan ada di antara warga negara yang merasa ditinggalkan, diperlakukan secara berbeda, dan atau diskriminatif. Rumah besar bernama Indonesia akan dihuni oleh orang-orang yang beraneka ragam atau majemuk dari berbagai aspeknya, tetapi bersatu dan kokoh. Indonesia melalui perguruan tinggi berbasis agama seharusnya menjadi contoh, dalam membangun kebersamaan dan persatuan di antara orang-orang yang berlatar belakang berbeda-beda.

Selain membangun kebersamaan, di antara perguruan tinggi berbasis agama, PTKIN seharausnya memulai menempatkan diri pada wilayah persaingan yang lebih luas. Tidak pada tem;patnya perguruan tinggi Islam hanya berkompetisi dengan perguruan tinggi sejenis, atau sesama perguruan tinggi berbasis agama, tetapi persaingan itu harus dengan perguruan tinggi besar, baik perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri. Beberapa UIN sudah menyandang akreditasi institusi dengan nilai A. Prestasi itu, tentu seharusnya segera disusul oleh yang lain baik yang berupa UIN, IAIN maupun STAIN.

Institusi apapun jika berkeinginan berkembang dan maju, maka harus berani bersaing secara obyektif, terbuka dan sportif. Tidak ada salahnya, beberapa UIN memberanikan diri bersaing dengan perguruan tinggi besar di negerinya sendiri, seperti UI, ITB, UGM, IPB, Unhas, Unand, Unair, ITS, dan lain-lain. Selain itu, juga sudah barang tentu bersaing dengan perguruan tingi lainnya di negara lain. Semangat kebersamaan dan persaingan itu akan menumbuhkan kesadaran untuk meraih kemajuan dan kemenangan.

Aspek Strategis PTKIN Yang Seharusnya Dipelihara

Untuk meraih keunggulan hingga memenangkan persaingan di antara sesama perguruan tinggi sebenarnya tidak cukup hanya mengandalkan berbagai fasilitas yang bersifat fisik, seperti kehebatan penampilan bangunan gedungnya, perpustakaan, laboratorium, asrama mahasiswa, perkantoran, keindahan tamannya, dan sejenisnya. Semua hal itu penting, akan tetapi sudah tidak dianggap sebagai faktor unggulan. Sebab pada saat sekarang, perguruan tinggi pada umumnya, sudah berhasil memenuhi kebutuhan sebagaimana yang dimaksudkan itu.

Ukuran keunggulan perguruan tinggi sudah beralih dari aspek yang bersifat fisik ke aspek yang bersifat non fisik. Perguruan tinggi disebut unggul manakala telah berhasil melahirkan karya-karya akademik yang bermutu dan diakui oleh kalangan ilmuwan yang luas. Dulu, perguruan tinggi disebut hebat dan maju jika telah berhasil menyelenggarakan wisuda tepat waktu dan jumlahnya banyak. Sekarang ini, orang mulai bertanya, tidak saja mengenai ijazah seseorang, tetapi juga apa di balik ijazah yang diterbiutkan oleh perguruan tinggi itu. Para lulusan perguruan tinggi itu setelah diwisuda dipertanyakan oleh masyarakat tentang kemampuannya, yaitu bisa melakukan apa, akan bekerja dimana, akan mampu menciptakan apa, dan seterusnya.

Perguruan tinggi disebut unggul, tidak saja ketika sudah memiliki sejumlah dosen dengan gelar akademik puncak, tetapi keberadaan dosen itu masih dipertanyakan lagi, yaitu misalnya mereka telah menulis buku apa, meneliti tentang apa, menulis di jurnal apa, berapa hasil penelitiannya yang dipatenkan, dan seterusnya. Latar belakang pendidikan para dosen hingga bergelar Doktor bagi perguruan tinggi adalah sangat penting, tetapi hal itu dianggap belum cukup jika belum berhasil menunjukkan karya-akarya akademiknya.

Beberapa hal lainnya lagi yang akan dijadikan tolok ukur sebagai perguruan tinggi unggul adalah tentang jaringan kerjasama yang berhasil dibangun, karya-karya akademik yang dihasilkan yang secara langsung memberi manfaat bagi kemajuan masyarakat, keberadaan guru besar dengan berbagai karya akademiknya, dan seterusnya. Memenuhi kebutuhan sebagaimana dikemukakan itu tentu tidak semudah memenuhi kebutuhan aspek yang bersifat fisik seperti gedung kuliah, perpustakaan, perkantoran, dan semacamnya.

Membangun perguruan tinggi unggul hingga mampu bersaing dan menang, maka diperlukan orang-orang yang memiliki semangat, etos, dan mindset yang tepat sebagaimana dibutuhkan oleh perguruan tinggi yang dimaksudkan itu. Semua pihak yang berada di kampus itu, mulai dari para pimpinan, guru besar, para dosen, dan mahasiswanya harus memiliki mindset, semangat dan tekat yang yang sama. Pekerjaan itu sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan. Perguruan tinggi Islam harus berhasil berperang melawan pikikran kecil, rendah, sederhana yang hanya memperjuangkan kelompok, dan berada pada lorong-lorong kepentingan sempit. Unggul dan menang harus berani menempatkan diri pada jalur jalan bebas hambatan dan bersaing dengan siapapun secara sportif.

Hal penting dan mendasar lainnnya agar perguruan tinggi Islam negeri menjadi kokoh maka keberadaannya harus dirasakan menjadi milik masyarakatnya. Perguruan tinggi memang berbeda dari tradisi masyarakatnya, tetapi perbedaan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak saling berkomunikasi. Perguruan tinggi harus mengakar di tengah-tengah komunitas masyarakat. Sebagai contoh, IAIN yang berada di Manado, Sulawesi Utara ini. Muslim di Proivinsi Sulawesi Utara bukanlah mayoritas, tetapi bersama perguruan tinggi berbasis agama lainnya, menjalin komunikasi sebaik-baiknya dengan berbagai pihak hingga akhirya mendapatkan dukungan kuat dari masyarakat dan pemerintah daerah. Inilah yang dikmaksud bahwa perguruan tinggi Islam harus mengakar di tengah-tengah masyarakat.

Maka akhirnya, kemampuan menata pikiran, hati, dan ketepatan dalam memposisikan diri oleh masing-masing warga kampus selalu menjadi kunci kemenangan dalam persaingan sebagaimana dimaksudkan itu. Tatkala semua warga kampus berhasil dalam menata dirinya sendiri secara tepat, maka perguruan tinggi di mana mereka sehari-hari berhikmat, maka akan maju dan berhasil memenangkan persaingan dengan pesaing-pesaing yang unggul. Wallahu a’lam.

*) Tulisan ini Sebagai Bahan Seminar di IAIN Menado pada kegiatan AICIS dan telah dipublikasikan di web UIN Malang tanggal 31 Agustus 2015 – http://www.uin-malang.ac.id/r/150801/menjadikan-perguruan-tinggi-islam-unggul-dan-menang-bersaing.html

Leave a Reply